kepada puisi aku acapkali berlabuh
membekuk lautan
jadi batu dua nisanmu
Dari bibirmu
aku gemar mengecup rembulan
bila zikir selalu bersarang
Aku ingin kita bertemu lagi
banyak kisah yang tak sempat kita bagi
berapa lama aku menunggu
tiba-tiba kau menyapa
saat kubuka jendela
Kereta waktu berlari
membawamu pergi menemui Illahi
waktu kita berjanj akan bersama selamanya
tak sempat kau habiskan teh susu
Di pojok bahasa
sepotong hamburger beku
menemaniku menunggumu datang
hingga nasi tiba-tiba basi
kaupun tak kan kembali
sendok berderak merambat malam
mengingatkanku kau telah pergi
Sayang,
bangunlah....
menyaksikan gunung memeram kabut
kita tak usah lagi ribut
Hitunglah,
berapa embun hinggap di dahan itu
dan semalaman engkau bermimpi apa
adakah kubangun keraton dimatamu
Jangan terlalu jauh merenung
batu-batu itu tak habis terkikis
meski sungai mendesau
kita cukup pada tidur
untuk tau akan hakekat hidup
Kapan orang bersedia menutup kisah
sewaktu hujan mengguyur sungai
dan laut menganga menerbangkan awan
kita tak lelah-lelah bercumbu dalam batu
mengukur jarak kedalaman waktu
Menangislah...
selagi kupu-kupu membawa sekembang cinta
lalu terbanglah suatu negeri
tanpa batas waktu
Di sana kau membuat peta
tentang masa silam tersilap sengketa
dan meramu musim dengan setangkup kasturi
dari lentik jemari bidadari
Di dadaku ingin kau menjelma burung
bersayap pelepah rembulan
mengasah matahari di atas tekad
Menangislah..
selagi matahari sanggup mencatat tasbih
dari cucuran air mata
karena tangisku adalah
ombak yang bergeletar
di dada penyair

0 komentar:
Posting Komentar