Nyi Mas Rd Ade Titin Saskia Darmawan, terlahir di Bandung 31 Oktober 1981.Yang kesehariannya disibukkan sebagai Konsultan Akutansi ini tak luput menulis di sela-sela waktu luangnya, menulis cerpen, puisi yang sudah menjadi kebiasaann sejak bersekolah dulu. Selain sebagai Konsultan Akutansi di Biro Konsultan dan Interior Designt Nusa C di Denpasar Bali. Pernah bekerja di Jepang sebagai Konsultan Akutansi di Kawamoto Kenshushei. Pernah menjadi penyiar di beberapa radio swasta di Bali, menjadi MC dan nyanyi di beberapa acara yang masih digelutinya hingga kini.
Tahun 2006 Bersama Bapak Puspayoga, Tata Rama Production dan Koran Bali menggelar Acara Lomba Baca Puisi Piala Wali Kota Denpasar tingkat SD, SMP,SMA dan Umum yang diikuti oleh 900 peserta.
Kehidupan pewartaan yang pernah dijalaninya:
Mengasuh Sastra dan Budaya di Koran Bali, Koran Patroli Pos, Koran Patroli Nusantara, Majalah Amertha, Majalah Stamina, Redaktur Majalah Ekspresi, Majalah Mesra Jogjakarta, Majalah Suluh, Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia. Bali Pos.
Berkesenian masih digelutinya hingga kini dari bernyanyi hingga berteater,
Buku Yang Sudah Terbit :
- Antologi Puisi Bersama 50 Penyair Nusantara "Negeri Sembian Matahari"
- Antologi Puisi Sendiri "Aksara Jiwa"
- Antologi Puisi Sastrawan Indonesia 2014
- Antologi Puisi Bersama 10 Penyair Bali "Irama Tanah Air"
Buku Yang Akan Diterbitkan :
- Antologi Puisi Bersama 20 Penyair Nusantara "Karena Itu Engkau Kusebut Ibu"
- Antologi Bersama 15 Penyair Nusantara "Dialog Ruang" Antologi Puisi Bersama Fanny Jonathan Poyks "Dua Sisi"
- Antologi Puisi Bersama David Darmawan Siswandi "Rendezvous"
- Antologi Puisi Sendir "Aku Dan Kehadiranmu"
- Antologi Puisi Sendiri "Bianglala Kehidupan"
Email : adetitinsaskia@hotmail.com
Tahun 2006 Bersama Bapak Puspayoga, Tata Rama Production dan Koran Bali menggelar Acara Lomba Baca Puisi Piala Wali Kota Denpasar tingkat SD, SMP,SMA dan Umum yang diikuti oleh 900 peserta.
Kehidupan pewartaan yang pernah dijalaninya:
Mengasuh Sastra dan Budaya di Koran Bali, Koran Patroli Pos, Koran Patroli Nusantara, Majalah Amertha, Majalah Stamina, Redaktur Majalah Ekspresi, Majalah Mesra Jogjakarta, Majalah Suluh, Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia. Bali Pos.
Berkesenian masih digelutinya hingga kini dari bernyanyi hingga berteater,
Buku Yang Sudah Terbit :
- Antologi Puisi Bersama 50 Penyair Nusantara "Negeri Sembian Matahari"
- Antologi Puisi Sendiri "Aksara Jiwa"
- Antologi Puisi Sastrawan Indonesia 2014
- Antologi Puisi Bersama 10 Penyair Bali "Irama Tanah Air"
Buku Yang Akan Diterbitkan :
- Antologi Puisi Bersama 20 Penyair Nusantara "Karena Itu Engkau Kusebut Ibu"
- Antologi Bersama 15 Penyair Nusantara "Dialog Ruang" Antologi Puisi Bersama Fanny Jonathan Poyks "Dua Sisi"
- Antologi Puisi Bersama David Darmawan Siswandi "Rendezvous"
- Antologi Puisi Sendir "Aku Dan Kehadiranmu"
- Antologi Puisi Sendiri "Bianglala Kehidupan"
Email : adetitinsaskia@hotmail.com
VICTORIA LOUISE MONIKA
Diposting oleh
Unknown
di
Kamis, Mei 31, 2012
VICTORIA LOUISE MONIKA Bisa jadi itu nama panjangnya, bisa juga bukan, karena nama bokap dan kakeknya belum ikut berderet di belakangnya. Tapi itu bukan masalah, yang jelas sejak lahir namanya memang begitu. Nama seorang dokter Belanda keturunan Perancis yang pernah mengadakan penelitian di desanya.
Gadis yang selalu berkucir dua itu mulai merasa pongah dan merasa sedikit di atas dari pada temannya yang lain karena mengerti kalau namanya berbau keju.
Suatu siang di kantin sekolah gadis berkucir dua itu memasuki kantin.
“ Aik sekarang sombong, tadi pagi aku menyapanya dan tidak membalas, malah membuang muka.” Dengus salah seorang siswa sekolah itu.
Mulutnya yang sudah berhenti bicara disumbatnya dengan keripik singkong yang digenggamnya sedari tadi. Lawan bicaranya seorang siswi dengan rambut pendek memperhatikannya dengan serius.
“Oh, kamu belum tahu kisahnya ya Tin?” Tanyanya dengan nada bersemangat. Siswi yang bernama Titin itu menggeleng dengan mulut yang penuh, rambutnya yang cepak menari, lucu kelihatannya.
“ Aik, sekarang ogah dipanggil dengan namanya yang dulu.” Jelas siswa yang bernama Tirta itu.
“Aik, ganti nama?” Tanya siswi berambut pendek.
“ Ganti nama sih tidak, tapi Aik maunya dipanggil lengkap namanya, Aik itu cuman nama kecil, maunya dia dipanggil namanya lengkap sesuai dengan yang tertera di absen sekolah atau yang seperti di akte kelahirannya.” Kata Tirta.
“ Lho, guru di sini kalau ngabsen kan cuman panggil Aik.” Sergah Titin.
“ Iya, tapi bukan itu maksudnya, dia itu maunya dipanggil dengan nama Victoria Louise Monika, gitu!” Ujar Tirta keras.
“ Ih moga-moga gak jadi deh, kalau nggak aku bisa nggak ngomong ke Aik lagi. Namanya sulit kayak merk dagangan Pak Sapirin.” Kata Titin datar.
“ Huss!Pak Sapirin itu kan Tukang Loak, masa kamu samakan si Aik dengan barang loakan Pak Sapirin?” Tirta tersenyum.
“ Pak Sapirin kan selalu bilang barangnya dari luar negeri!” Titin tak mau kalah.
“ Aik jadi berlagak begitu sejak guru sejarah menerangkan revolusi perancis dan perluasan daerah di kelas kita. Tin…. Kata guru sejarah nama Aik ada miripnya dengan nama seorang Ratu Perancis dan Inggris, hebat kedengerannya! Padahal selama ini Aik tidak pernah tahu bagaimana membaca namanya sendiri dengan baik dan benar, nanti setelah pelajaran sejarah usai Aik maju ke depan kelas dan minta tolong pada guru sejarah membaca namanya dengan baik dan benar.” Jelas Tirta lagi.
“ Aik jadinya berubah ya, nggak kayak di SD dulu ya!”
“ Ya barangkali masuk kelas satu SMP memang harus ada perubahan, Tin.”
“ Udah ah, kita lanjutin ceritanya di kelas aja, tadi kita hanya minta ijin mau mengumpul absen, padahal kita sudah kelamaan di kantin, aku nggak mau kalau semprot Bu Keriting lagi!” Titin bangkit dari kursinya.
“ Yuk!” Siswa berambut cepak itu mengikutinya menuju ke kelas mereka.
Ibu keriting yang mengajar Biologi masih menerangkan dengan berapi-api (bukan kebakaran lho). Titin mengetuk pintu dan mengangguk hormat pada Bu Keriting.
“ Masuk!” Sambut Bu Keriting pendek.
Kemudian melanjutkan lagi pidatonya yang membuat sebagian besar siswa di kelas merasa bosan dan mengantuk.
“ Tirta!” Panggil Aik lagi, kali ini lebih keras.
“ Nanti aku certain kalau Bu Keriting sudah ke luar kelas.” Kata Tirta pelan.
“ Janji ya!” Sergah Aik.
“ Kenapa sih? Tunggu aja sebentar, aku janji!” Tirta sedikit kesal.
Kelas kembali sunyi. Tenang sekali karena para siswa sepertinya terserang kantuk semuanya. Bu Keriting senang, di sangkanya semua siswa betul-betul memperhatikan apa yang sedang di terangkannya, kasihan…..
“ Nah, ibu rasa sudah cukup sampai di sini dulu, minggu depan ibu akan lanjutkan mengenai tumbuhan dikotil ini.”
Siswa kelas satu semuanya tiba-tiba kembali bersemangat. Ucapan Bu Keriting sepertinya obat anti tidur.
Kelas ribut lagi begitu Bu Keriting keluar. Budi sang ketua kelas mengacuhkan saja keadaan kelas yang gaduh, dia malah asyik main kwartet di bangku belakang. Entah siapa yang membawa barang itu ke sekolah.
“ Tirta. Kamu cerita sekarang.” Desak Aik mendekati Tirta.
“ Ssssttt… di luar aja, Pak Abdul Rijak anaknya sakit, kita tidak belajar Matematika hari ini.” Aik menarik lengan Tirta yang berjalan males-malesan.
“ Ayo! Di bawah pohon akasia itu saja!”
Mereka duduk di bawah pohon akasia yang tidak begitu besar.
“ Tadi kamu cerita apa aja sama Titin, kok lama bener?” Tanya Aik.
“ Titin nggak mau lagi ngomong sama kamu.” Jelas Tirta singkat.
Sehelai daun akasia yang jatuh di sampingnya di permainkannya dengan ujung sepatunya.
“ Lho? Memangnya aku salah apa sama Titin? Ah, kamu bercanda ya?” Tirta menggeleng.
“ Sungguh! Titin yang bilang begitu padaku di kantin.” Suara Tirta tenang.
“ Ah, aku nggak percaya, Titin teman yang baik.” Nada bicara Aik mulai gusar.
“ Kamu tidak mau tahu kenapa Titin tidak mau ngomong sama kamu lagi?”
“ Kenapa. Ta? Apa kata Titin?” Desak Aik.
“ Dia menyapamu tadi pagi dan kamu membuang muka, aku bilang kalau kamu nggak mau di panggil Aik lagi, tapi harus dengan nama lengkap.”
“ Ya, emang, nama itu kan lebih baik dan tidak ada duanya di desa ini.” Aik mulai pongah.
“ Tapi Titin susah menyebutnya, mangkanya dia malas ngomong sama kamu lagi, entar kalau itu nama salah terucap, kamu pasti akan lebih marah lagi.”
“ Gimana ya, tapi aku nggak mau di panggil Aik lagi.”
“ Tapi namamu susah di panggil, jangan-jangan hanya karena kamu minta di panggil nama lengkap nanti semua teman nggak mau memanggilmu lagi.”
“ Tapi kan kedengarannya intelek, itu artinya bagus gitu. Keren.”
Esok paginya Tirta sengaja datang pagi-pagi ke sekolah, namun ia kalah pagi dengan Aik. Gadis berkucir dua itu sudah duduk manis di bangkunya dengan rambut yang habis masuk salon. Kelas masih kosong.
“ Kenapa kamu tidak dipanggil Viktoria aja, atau Louise aja, atau Monika aja. Tapi kayaknya Victor lebih sip kedengerannya.” Usul Tirta.
“ Okey, mulai sekarang aku dipanggil Victor aja, Louise kedengerannya terlalu sederhana, kalau Monika sih mirip nama si menik, rasanya aku cocok di panggil Victor deh.” Gumam Aik dengan pandangan mata yang menerawang. Bibirnya tersenyum senang dan bangga. Di sampingnya Tirta sudah tidak dapat menahan tawanya.
Di luar kelas, di bawah pohon akasia Tirta menumpahkan tawanya, di sana ia tak sendiri, ada beberapa temannya. Aik masih duduk di kelas membanggakan rambutnya yang sudah tidak kucir dua lagi, sudah menjadi keriting dan berbau salon. Aik, Victoria Louise Monika yang termangu sendirian di kelas, yang kehilangan rambut kucirnya dan berbau obat keriting salon, yang tidak dapat merubah sosok dirimu yang sebenarmya lumayan bagus. Gadis pongah yang malang, mulai hari ini kamu harus pasrah di panggil dengan nama Victor oleh seluruh kawanmu. Kamu akan tahu nantinya kalau gadis sepertimu tak pantas di panggil Victor, karena nama itu nama cowok , kamu akan lebih gondok lagi ka;au kamu tahu . Tirta menawarkan nama itu karena nama itu singkatan “Vikiran kotor” Bukan hanya ingin menyingkat nama itu semata-mata. Akankah hal itu membuat kepongahanmu terhenti atau terbuang sama sekali.
Kado Ungu Tua
Diposting oleh
Unknown
di
Kamis, Mei 31, 2012
KONON , UNGU TUA MERUPAKAN WARNA SEDIH WARNA YANG MENGIRINGI KEMALANGAN TETAPI ANDIN TAK PERCAYA DENGAN SEGALA MACAM TAHAYUL SEPERTI ITU KARENANYA IA TETAP MEMBUNGKUS KADO UNGU TUA ITU
Andin hanyut dengan keasikannya menatap brosur yang disodorkan Wina karibnya. “Swear deh, kamu ngga bakal rugi. Pesannya sekarang. Bayarnya paling lambat akhir bulan. Itu barang bagus lho, jarang-jarang dapat potongan harga dua puluh persen begini.” Pintar benar cara Wina berpromosi, benar-benar mirip top sales. Belum lagi gayanya membujuk tetapi setengah memaksa. “Kamu lihat sendiri kan, modelnya bagus dan elit, dibikin kado juga keren, wow, sungguh eklusif.” Wina masih berpromosi.
Hati Andin mulai tergoda, harganya tidak terlalu mahal. Kapan lagi menunggu potongan harga yang menggiurkan itu? Andin ingat pada Egi, lelaki sabar yang amat disayanginya, lelaki yang sudah tiga tahun hidup bersamanya dalam ikatan rumah tangga. Balpoint itu cocok buat Mas Egi. Apalagi dengan Warna Ungu Tua.
“An, jadi ngga nih?” Sentak Wina. “Iya. Iya…. Aku kan lagi mikir.” “Jangan lama-lama dong, aku kan harus menawarkan ke temen-temen lain, biar bisa mencapai target bulan ini.” Pesan. Jangan. Pesan. Jangan. Andin masih menimbang-nimbang. Senangnya andai bisa membelikan sesuatu buat Mas Egi. Ulang Tahun Mas Egi sudah dekat, alangkah bahagianya andai bisa menghadiahkan Ballpoint Ungu Tua itu pada Mas Egi, pasti ia suka dan selalu ada di saku baju kerjanya.
“Udah ah, kamu ngga bakal beli nih kayaknya.” Wina menarik brosur dari genggaman Andin. ”Eh, Win! Aku pesan Ballpoint Ungu Tua itu satu!” Ujar Andin. Agaknya Wina belum percaya juga. “Benar nih?” Andin mengangguk meyakinkan Wina. ”Okay! Minggu depan ya An” Andin menghembuskan nafas lega. Sebuah keputusan yang bijaksana, setidaknya ia akan membuat surprise buat Mas Egi suaminya.
Tuhan!
Bila boleh aku meminta
Kuingin hati yang setia
Dalam merajut suka duka bersama
Bila boleh aku memberi
Ingin kuberi padanya
Sebuah jiwa dan cinta
Agar setia dan cinta
Dapat bersatu, selamanya
Andin membaca sekilas lagi puisi yang ditulisnya. Mas Egi pasti senang dengan puisi ini, pikirnya, biasanya sih Mas Egi suka dengan puisi-puisi yang ditulis Andin. Ia tersenyum puas, sebuah kertas kado berwarna ungu tua diambilnya dari laci. Dengan rapi dibungkusnya ballpoint itu. Menurut primbon dan sebangsanya, ungu tua merupakan warna sedih, warna yang mengiringi kemalangan. Ah! Tapi Andin tidak percaya segala macam tahayul seperti itu. Sebab bila dipercaya akan menjadi sebuah sugesti. Nah manis sekali. Andin mencium kado mungil itu dan menyembunyikannya di dalam almari pakaian. Matanya berpaling pada Mas Egi yang sejak tadi sudah terlelap, dikecupnya kening suaminya, Andinpun beranjak keperaduan.
Andin membuka jendela kamar, cahaya mentari pagi mulai menyengat. “Mas….Mas Egi, ayo bangun, kopinya keburu dingin, entar terlambat ke kantor.” Andin membangunkan suaminya yang masih terlelap. Sementara ia asik bersolek di depan cermin, namun ia tersentak kala dilihatnya suaminya membuka mata lemah, dengan mulut terbuka dan gigi terkatup, seakan-akan menahan sakit. “Ma….mama !” Andin teriak memanggil mamanya. “Ada apa An, pagi-pagi teriak-teriak” Suara mamanya setengah terkejut sembari menghampiri Andin. ”Li…lihat ma, kenapa Mas Egi?” Air mata Andin mulai menetes. Wanita setengah baya itu mulai mendekati anak menantunya. ”Kita ke rumah sakit” Suara wanita setengah baya itu lemah.
Mata Andin tampak memerah karena kelelahan menangis, Tuhan ! begitu cepat kau ambil Mas Egi, lelaki yang sabar, baik dan berwibawa. Penuh kelembutan. Lelaki yang ramah dan sederhana. Air mata Andin terus menetes. Dibukanya kado ungu tua yang belum sempat sampai ke tangan Mas Egi.
Mas Egi. Baru saja aku ingin memberikan sebagian dari apa yang sanggup kuungkapkan sebagai bukti kasihku. Aku mencoba Mas, tetapi kau sudah pergi tanpa sempat menerimanya. Apakah karena warna ungu tua itu? Seolah-olah aku rela melepaskanmu pergi. Andin menyesali diri.
“Semuanya sudah terjadi, An!”
Andin menoleh kea arah suara lembut itu, dilihatnya mama berdiri dipintu kamar. Andin menghambur ke pelukan mamanya. “Andin yang salah ma, kenapa andin menyiapkan kado ungu tua ini!” Andin masih menyesali diri. Mama merengkuh andin ke dalam pelukannya, dibelainya rambut putrinya. “Semuanya, sudah kehendak Tuhan. Jangan terus menerus menyalahkan diri sendiri, manusia hanya bisa berencana, sedangkan Tuhan yang mengatur semuanya. Mama bangga pada suamimu itu, bertahun-tahun tumor ganas itu menyiksa otaknya, tapi semua itu hanya ia rasakan sendiri, ia merahasiakannya pada kita, karena ia tak ingin kita bersedih. Di depan kita ia nampak sehat dan energik. Tapi pada kenyataannya ia amat menderita. Tumor ganas itu telah lama menyiksa tubuhnya dan kini tumor ganas itu telah menjadi perantara kepergiannya, kita hanya bisa berdo’a semoga ia mendapatkan kebahagiaan disisi Tuhan dan diterima amal kebaikannya” Andin semakin erat memeluk mamanya seakan ia ingin terus berada dalam dekapannya untuk meringankan beban dukanya.
Dua Wajah
Diposting oleh
Unknown
di
Kamis, Mei 31, 2012
Dingin menusuk sukma
tersungkur sampai ke akarnya
memporak porndakan lamunan yang mengembang
bimbang daku tuk tersenyum
menyambut keramahan yang tampak dipermukaan
Dikau bak langit dan bumi
senyummu penuh kepalsuan
dua wajah yang kau perankan
wajah angkasa dan lautan
Kecewa aku oleh lagak lagumu
jemu aku oleh bualanmu
di balik punggungmu tersimpan racun mematikan
Peran apa yang tengah kau mainkan
angkasa ternyata panggung sandiwara
terpatri sejuta nestapa
Apa yang kau cipta
membuat hati teriris
menepis harapan
mengubur senyuman
Tangis menampar pesona di hadapan
## Setiap yang kita lakukan biarlah jujur
kerana kejujuran itu telalu penting dalam sebuah kehidupan.
Tanpa kejujuran hidup sentiasa menjadi mainan orang##
tersungkur sampai ke akarnya
memporak porndakan lamunan yang mengembang
bimbang daku tuk tersenyum
menyambut keramahan yang tampak dipermukaan
Dikau bak langit dan bumi
senyummu penuh kepalsuan
dua wajah yang kau perankan
wajah angkasa dan lautan
Kecewa aku oleh lagak lagumu
jemu aku oleh bualanmu
di balik punggungmu tersimpan racun mematikan
Peran apa yang tengah kau mainkan
angkasa ternyata panggung sandiwara
terpatri sejuta nestapa
Apa yang kau cipta
membuat hati teriris
menepis harapan
mengubur senyuman
Tangis menampar pesona di hadapan
## Setiap yang kita lakukan biarlah jujur
kerana kejujuran itu telalu penting dalam sebuah kehidupan.
Tanpa kejujuran hidup sentiasa menjadi mainan orang##
Nyanyian Kelam
Diposting oleh
Unknown
di
Kamis, Mei 31, 2012
Karang kepedihan mengekang jiwa
sembunyi aku dari takut
laksana permainan hidup makin sulit
kerap kutentang lantang
nada duka yang tak merdu
Buaian pilu menumpu sendu
Ragu aku lantunkan nada
Hasrat mengharap lenyap
nada kelam dari perjalanan
Irama ini hanyalah
nyanyian kelam,kian memburu resah payah
Lagu sedih
nada lirih
Luputlah dari dendangan kekelaman
Irama kekelaman hanyalah
Lagu duka masa silam
Biarkan tenggelam dalam-dalam
##
Cinta bukan mengajarkan kita menjadi lemah,
tetapi membangkitkan kekuatan.
Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri,
tetapi menghembuskan kegagahan.
Cinta bukan melemahkan semangat,
tetapi membangkitkan semangat (Kau yang bangkitkan semangatku)##
sembunyi aku dari takut
laksana permainan hidup makin sulit
kerap kutentang lantang
nada duka yang tak merdu
Buaian pilu menumpu sendu
Ragu aku lantunkan nada
Hasrat mengharap lenyap
nada kelam dari perjalanan
Irama ini hanyalah
nyanyian kelam,kian memburu resah payah
Lagu sedih
nada lirih
Luputlah dari dendangan kekelaman
Irama kekelaman hanyalah
Lagu duka masa silam
Biarkan tenggelam dalam-dalam
##
Cinta bukan mengajarkan kita menjadi lemah,
tetapi membangkitkan kekuatan.
Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri,
tetapi menghembuskan kegagahan.
Cinta bukan melemahkan semangat,
tetapi membangkitkan semangat (Kau yang bangkitkan semangatku)##
Trauma
Diposting oleh
Unknown
di
Kamis, Mei 31, 2012
Kutegak sisa malam
sekat menyumbat kerongkongan
Lirih pedih menyatu diam
keheningan tampak kian kelam
Kureguk paksa sisa hari
dari ribuan kekelaman
warna yang kubenci belum jua tenggelam
muram menampar gelisah resah
Dari matamu kau pantul kesejukan
sebagai penawar deritaku
masih saja ada bayang membentang kejang
menyumbat langkah
Jeritku kian pedih
getas, gamang, menggenang
Enyahlah kau duhai Trauma jiwa
biarkan kutapaki sisa hari
Embun yang kau sembur dari kehadiranmu kini
adalah keindahan tersaji
namun,
langit hati ini
jiwa yang kembara letih
masih saja memuram kabut
Nada yang kau lantunkan iringi titian bahagia
masih saja kidung duka
mengapit di sela lantunannya
Jiwa yang kembara letih
meronta mendobrak trauma
sekian lama,
sekian perjalanan
menyiksa diri kian dalam
Ingin kuberjalan
nikmati detak detik waktu
dengan senyum tanpa polesan
Oh hati yang terkoyak
bebaslah,
dari belenggu bayang purba nan luka
yang masih menyiksa
mengganjal langkah
sekat menyumbat kerongkongan
Lirih pedih menyatu diam
keheningan tampak kian kelam
Kureguk paksa sisa hari
dari ribuan kekelaman
warna yang kubenci belum jua tenggelam
muram menampar gelisah resah
Dari matamu kau pantul kesejukan
sebagai penawar deritaku
masih saja ada bayang membentang kejang
menyumbat langkah
Jeritku kian pedih
getas, gamang, menggenang
Enyahlah kau duhai Trauma jiwa
biarkan kutapaki sisa hari
Embun yang kau sembur dari kehadiranmu kini
adalah keindahan tersaji
namun,
langit hati ini
jiwa yang kembara letih
masih saja memuram kabut
Nada yang kau lantunkan iringi titian bahagia
masih saja kidung duka
mengapit di sela lantunannya
Jiwa yang kembara letih
meronta mendobrak trauma
sekian lama,
sekian perjalanan
menyiksa diri kian dalam
Ingin kuberjalan
nikmati detak detik waktu
dengan senyum tanpa polesan
Oh hati yang terkoyak
bebaslah,
dari belenggu bayang purba nan luka
yang masih menyiksa
mengganjal langkah
KIDUNG SUNYI SEORANG MANULA
Diposting oleh
Unknown
di
Kamis, Mei 31, 2012
DUA TAHUN SUDAH…
AKU DALAM BAYANGANKU…
TERBENTANG HAMPARAN INDAH HARI-HARI TUAKU…
ANGANKU MEMBENTUR PADA KECERIAAN SERTA RENYAI TAWA CUCUKU…
BENARKAH INI LANGKAH TERBAIK, BAGI SEORANG LANJUT USIA.
Udara pagi di luar sana demikian segar.Kubuka jendela kamarku dan kuhirup udara asri pegunungan di pafi ini yang membawa masuk wangi bunga yang tumbuh di halaman. Hari ini usiaku genap 75 tahun. Inilah Ulang Tahunku yang ke-2 sejak aku menjadi seorang penghuni rumah lanjut usia ini. Tidak pernah kubayangkan betapa sunyinya hidupku kini. Hidup yang hanya menunggu sisa-sisa hari. Tinggal di rumah lanjut usia dalam pavilion seorang diri. Tanpa harus mengerjakan aktifitas lagi. Segala macam telah diatur oleh suster. Tinggal menekan tombol jika aku memerlukan sesuatu. Aku measa tak memiliki siapa-siapa lagi dan tak mampu melakukan apa-apa lagi setelah suamiku tercinta meninggal dunia. Bagiku hidup ini demikian singkat. Seakan-akan baru saja aku melahirkan Andika, putraku semata wayang, seakan-akan baru saja aku melihat kelucuannya tertatih-tatih belajar berjalan, yah, serasa baru kemarin kami membina rumah tangga yang sangat harmonis penuh kedamaian dan riang tawa.
Masih kuingat malam itu, dua tahun yang lalu, ketika Andika menangis karena harus meninggalkan aku untuk dipindah tugaskan ke propinsi lain. Ia menangis karena aku tak mau ikut dengannya. “ Biarlah, mama di rumah ini saja.” Itulah penolakanku saat itu yang akhirnya Andika pun meninggalkanku dengan memboyong istri dan cucuku semata wayang, cucuku yang manis dan cantik, yang selalu menghiburku dengan kelucuannya. Akhirnya aku pun harus tinggal sendiri di rumahku yang besar.
Dua tahun setelah kepindahan Andika. Ia dating untuk menjengukku karena mendapat kabar dari tetangga kalau aku jatuh sakit. “ Mama, sebaiknya mama ikut kami saja, biar ada yang merawat mama.” Usul Andari anak menantuku. Aku hanya menjawab dengan gelengan kepala, karena aku tak ingin menyusahkan mereka. “ Apa tidak lebih baik kalau mama pindah ke rumah lanjut usia, ini demi kebaikan mama.” Suara Andika datar dan disambung lagi suara Andari. “ Kami piker, rumah sebesar ini kurang layak bagi orang setua mama, sudah saatnya mama istirahat dan mendapatkan perawatan khusus.” Aku tersentak dengan usul itu. Kutindas rasa tersinggung yang menghantui jiwaku. “Setiap saat kami bersedia menjemput apabila mama ngin menginap di rumah kami.” Ujar Andari datar.
Saran putra-putriku yang baik, namun sangat menusuk hati, tetapi aku mencoba bersikap wajar. Aku tetap berupaya mengalahkan emosiku. Andaikan mereka dapat menerka bathinku, betapa aku sedih akan masa tuaku. Pembicaraanpun berakhir tanpa sepatah kata jawaban dariku. Entahlah berbagai nostalgia masa lalu menghantui pikiranku.
Semalaman aku sulit memejamkan mata. Sudah tibakah waktuku untuk mengundurkan diri dari segala macam aktifitas duniaawi. Mengapa manusia harus menjadi tua pada akhirnya harus memerlukan bantuan dari orang lain. Pikiranku meraba dalam kegelapan. Tetapi itulah kenyataan hidup yang harus kuhadapi. Terlintas dalam pikirankubeberapa waktu silam, aku jatuh sakit sehingga memerlukan bantuan dari tetangga, mungkin lebih baik apa bila aku menuruti saran putra-putriku demi kebaikan diriku pula.
Tanpa kusadari pandanganku mengabur dan air mata menghalangi penglihatanku, aku berusaha tegar dan tabah kendati hatiku luluh mendengarnya. Malampun semakin larut, kupanmdangi lukisan almarhum suamiku yang terpajang rapi di dinding pavilion. Seakan ia tersenyum padaku dan member kekuatan serta dukungan bagiku untuk tetap tabah menghadapi sisa hari.
Aku mulai menyadari bahwa kepindahanku di sini membawa perubahan-perubahan pada kehidupanku, aku menangis. Akupun kini merasakan bahwa kahirnya aku terbuang di sini dan tidak diperlukan lagi, hidupku hanya menunggu sisa-sisa umurku. Tanpa terasa aku pun tertidur di sofa. Hari Ulang Tahunku ke-75. Aku sendiri dengan kesunyianku yang benar-benar sunyi.
Kanda
Diposting oleh
Unknown
di
Kamis, Mei 31, 2012
(Puisi Persembahan untuk kekasih hati)
di atas kolam hatimu
kuajak dirimu berkaca
memandang lautan rasa
yang sembunyi di ujung sukma
Seperti roh
kau sujud di hamparan nafas
aku lenyap
mengikuti bayang mayangmu
Aku terperangkap gelang
di makan kelam
berteriak riak hilang
tak terbilang
Menunggu roh'mu
sampai aku kehilangan roh
##Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu
dan bercinta dengan orang yang salah
sebelum bertemu dengan orang yang tepat,
kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas karunia itu.##
GELINJANG KATA HATI: Dalam Elegi Seorang Dara
Diposting oleh
Unknown
di
Kamis, Mei 31, 2012
(Pernah kulalui begitu lama belenggu kepedihan yang menyiksa)
Sepanjang sejarah kehidupanku...
baru kali ini luapan perasaan terdengar...
begitu penuh kenyerian...
letusan dari seluruh perasaan yang tertekan...
lama sudah...! Luapan suara itu diam dan tak mampu bersuara lagi...
suasana yang mencekam perasaan tak enak lagi terasa...
dan aku tak kuasa lagi menahan semua suasana pahit yang terus menerus datang dan datang lagi.
Kucoba menguraikan suasana yang mencekam perasaan...
Ingin kubuang rasa emosi...
Ingin kusingkap rasa kecewa...
dan hadapi kenyataan seberat apapun jua...
namun bisakah pikiranku terbuka....
Kutak tau lagi bagaimana aku harus menyemai harapan.
Hanya kegagalan yang selalu kurasakan
Hanya kekecewaan ang selalu kulukiskan
Bersama gelisah yang setia menemani
Bersama lara yang tak kunjung usai
Kenyataan pahit memang harus kuhadapi, dimana aku harus bisa menerima takdir yang ada
Kucoba hadapi kesulitan...sekuat yang mampu kulakukan...
namun...pikiranku semakin kalut...aku menangis,
menangis untuk kebodohanku....menangis untuk ketakberdayaan dan kerapuhanku...
Kenyataan yang ada membuatku terpukul...bathinku tersiksa.
Wajah cerahku hilang entah ke mana...
Yang tampak hanyalah rona murung adn lesu...penuh kenyerian.
Ada hal yang tak mampu kumengerti...
Mengapa semua ini harus terjadi padaku...
Mengapa garis nasib yang kualami demikian getir...
Keadaan kembali membawaku pada kepedihan
Keheningan terus menyelimuti diriku...
Bersama sejuta tanda tanya dalam kalbu...
dalam kesangsianku...dalam ketidakpastian...
dalam belenggu jiwa yang sarat...
dalam penantian kedamaian yang suci.
Aku tak tau lagi bagaimana seharusnya kuhadapi perasaan ini...
Aku tak dapat menguasai diriku sendiri...
Serasa aku tak mampu hadapi kenyataan ini...
kenyerian semakin mencekam kalbu...
bersama gelisah resahku
Mengapa embun tak lagi hadir tuk menyejukkan kegersangan sukma
sementara rinai hujan ciptakan air mata nan menyiksa...
kedamaian hilang ditelan waktu
seakan terbang terhembus angin
dan hanyut dalam banjir mengerikan
Kini aku sendiri...
merambah hari-hari dukaku...
menelusuri gelapnyakehidupanku
sunyi...sepi...lara...
tanpa cahaya...
tanpa nada...
tanpa soneta...
tanpa kedamaian...
Dalam jemari penyerahanku
Melewati waktu di bilik luka terdalam
Terselubung dalam tabir kesenduanku
##Kau telah hadir mengubur semua laraku,
begitu indah cintamu penuh kejujuran##
Sepanjang sejarah kehidupanku...
baru kali ini luapan perasaan terdengar...
begitu penuh kenyerian...
letusan dari seluruh perasaan yang tertekan...
lama sudah...! Luapan suara itu diam dan tak mampu bersuara lagi...
suasana yang mencekam perasaan tak enak lagi terasa...
dan aku tak kuasa lagi menahan semua suasana pahit yang terus menerus datang dan datang lagi.
Kucoba menguraikan suasana yang mencekam perasaan...
Ingin kubuang rasa emosi...
Ingin kusingkap rasa kecewa...
dan hadapi kenyataan seberat apapun jua...
namun bisakah pikiranku terbuka....
Kutak tau lagi bagaimana aku harus menyemai harapan.
Hanya kegagalan yang selalu kurasakan
Hanya kekecewaan ang selalu kulukiskan
Bersama gelisah yang setia menemani
Bersama lara yang tak kunjung usai
Kenyataan pahit memang harus kuhadapi, dimana aku harus bisa menerima takdir yang ada
Kucoba hadapi kesulitan...sekuat yang mampu kulakukan...
namun...pikiranku semakin kalut...aku menangis,
menangis untuk kebodohanku....menangis untuk ketakberdayaan dan kerapuhanku...
Kenyataan yang ada membuatku terpukul...bathinku tersiksa.
Wajah cerahku hilang entah ke mana...
Yang tampak hanyalah rona murung adn lesu...penuh kenyerian.
Ada hal yang tak mampu kumengerti...
Mengapa semua ini harus terjadi padaku...
Mengapa garis nasib yang kualami demikian getir...
Keadaan kembali membawaku pada kepedihan
Keheningan terus menyelimuti diriku...
Bersama sejuta tanda tanya dalam kalbu...
dalam kesangsianku...dalam ketidakpastian...
dalam belenggu jiwa yang sarat...
dalam penantian kedamaian yang suci.
Aku tak tau lagi bagaimana seharusnya kuhadapi perasaan ini...
Aku tak dapat menguasai diriku sendiri...
Serasa aku tak mampu hadapi kenyataan ini...
kenyerian semakin mencekam kalbu...
bersama gelisah resahku
Mengapa embun tak lagi hadir tuk menyejukkan kegersangan sukma
sementara rinai hujan ciptakan air mata nan menyiksa...
kedamaian hilang ditelan waktu
seakan terbang terhembus angin
dan hanyut dalam banjir mengerikan
Kini aku sendiri...
merambah hari-hari dukaku...
menelusuri gelapnyakehidupanku
sunyi...sepi...lara...
tanpa cahaya...
tanpa nada...
tanpa soneta...
tanpa kedamaian...
Dalam jemari penyerahanku
Melewati waktu di bilik luka terdalam
Terselubung dalam tabir kesenduanku
##Kau telah hadir mengubur semua laraku,
begitu indah cintamu penuh kejujuran##
Terima kasih,Tuhan.Tolong aku sekali lagi
Diposting oleh
Unknown
di
Kamis, Mei 31, 2012
Entah mengapa perasaan kemanusiaanku muncul, aku iba melihat wanita itu.
Dia diusir seperti layaknya dia bukan manusia.
Aku seorang mahasiswa negeri di sebuah kota besar sedang mengadakan penelitian di sebuah desa. Aku tinggal di rumah Pak Lurah bersama seorang kawanku. Desa ini amat terpencil, sebuah desa yang hanya di huni oleh beberapa puluh kepala keluarga saja. Desa ini amat indah dengan masyarakatnya yang ramah-tamah penuh kekeluargaan menyambutku. Rumah Pak Lurah terletak dekat sebuah pantai yang dengan berjalan kaki hanya memerlukan waktu kurang lebih sepuluh menit.
Hari pertama seusai sarapan pagi aku dan Yanto kawanku berjalan-jalan menghirup udara pagi. Tanpa terasa aku dan Yanto telah berada di tepi pantai. Aku duduk di bawah sebatang pohon rindang, sedangkan Yanto asik berlari-lari kecil di tepi pantai. Kusulut sebatang rokok , perlahan-lahan kuhisap sambil mataku menikmati keindahan pantai. Pantai ini sebenarnya indah, namun masih terlihat kotor oleh sampah-sampah yang berserakan. Kulihat sebuah perahu nelayan menepi. Beberapa orang nelayan turun dari perahu. Aku terkesiap ketika kulihat seorang wanita dengan pakaian kumal dan badan dekil menghampiri para nelayan.
“Hay, wanita sinting! Pergi sana!” Bentak seorang nelayan.
Entah mengapa perasaan kemanusiaanku muncul, aku iba melihat wanita itu. Dia diusir seperti layaknya dia bukan manusia. Siapa yang menginginkan dirinya gila? Namun wanita itu hanya tertawa dan pergi sambil menimang-nimang sepotong kayu yang dianggapnya orok. Aku seolah mempunyai firasat tentang wanita itu, firasatku mengatakan bahwa dia ada dalam beberapa waktu di dalam kehidupanku.
“Apa kamu mengenalnya?” Tiba-tiba Yanto sudah berada di dekatku.
“Tidak,dia hanya seorang manusia biasa seperti kita, walaupun dia kurang waras, tetapi sinar matanya itu seolah dipenuhi dendam dan penderitaan yang hebat. Dengar saja nama yang disebut-sebut, mungkin nama kekasih atau anaknya”
Rasa keingintahuanku serentak untuk segera kembali ke rumah pak lurah. Kamipun tiba di depan rumah pak lurah, kulihat pak lurah tengah asik dengan burung perkututnya.
“Betah tinggal di sini?”
“ Benar pak, betah sekali, kekosongan hidup saya selama ini serasa terisi.” Aku menghampiri pak lurah dan melanjutkan kalimatku.
“Saya tadi bertemu wanita gila,”
Pak lurah meletakkan sangkar perkututnya dan memandangku dengan dahi berkerut.
“Maksudmu tentu perempuan sinting yang bernama Seruni, apakah dia mengganggumu?”
“Sama sekali tidak, saya justru ingin mengetahui kisah hidupnya secara menyeluruh sepanjang yang pak lurah ketahui.” Kataku.
“ Apakah hal itu penting untukmu?” tanyanya.
Akupun menjawab perlahan pertanyaan pak lurah.“Saya rasa demikian, pak lurah.”
Pak lurah merasa heran lallu memandangku. Aku dan Yanto lalu diajak duduk di beranda sambil menikmati kopi dan ubi rebus.Pak Lurah mulai bercerita:
“ Seruni dulu tinggal di desa ini bersama kedua orang tua angkatnya, dia seorang gadis cantik, bunga desa. Tiba-tiba terjadi keributan, Seruni mengandung, Kedua orang tua angkatnya mengamuk, minta pengakuannya, tetapi seruni tetap membungkam, penduduk desa menganggap seruni pembawa sial dan mencemarkan nama desa tanpa berusaha mencari biangnya. Setelah melahirkan, Seruni diusir orang tua angkatnya dan minta perlindungan padaku, tinggalah ia bersama aku dan istriku, istriku merasa senang karena Seruni wanita penurut dan rajin apalagi kami tidak dikaruniai anak dalam pernikahan kami, Seruni kuanggap anakku sendiri. Seruni memberi nama pada anaknya dengan nama yang menimbulkan tanda tanya, yang segera tersebar secara berbisik ke seluruh desa, nama itu mirip dengan nama ayah angkatnya. Perasaan bapak mengatakan bahwa secara tidak langsung Seruni memberikan pengakuan siapa yang telah menodainya."
“ Siapa nama ayah angkatnya itu?” Tanyaku.
“Maaf,tak baik mengungkit-ungkit masa lalu.”
Aku hanya bisa terdiam.
.
“Apa penyebab wanita itu menjadi gila, pak?” Tanyaku kembali.
Pak Lurah menyulut pipa tembakaunya, lalu menjawab, “Kedua orang tua angkatnya menculik bayinya lalu pindah dari desa ini, entah kemana, keluarga itu tidak memiliki anak.”
...
Minggu pagi yang cerah, aku ke kota untuk mengambil beberapa perlengkapan yang belum kubawa, aku melihat rumahku begitu sepi, ah.. mungkin papa dan mama tidak ada di rumah, pikirku. Kulihat Bik Narti pembantu rumahku tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi.
“Pagi, Bi!” Sapaku pada Bik Narti.
“ Eh Den, sudah pulang.” Suara Bik Narti kudengar sambil aku berlalu hendak ke kamarku, namun saat kulintasi kamarpapa dan mamaku, sayup-sayup kudengar suara lantang milik mama.
“Kenapa kamu ijinkan anak kita mengadakan penelitian di desa itu, pah! Aku takut dia akan tahu siapa ibunya, aku tidak sanggup kehilangan dia, Pah!” Mamahku terisak.
“Wanita pasti sudah pindah dari desa itu, mah, sebenarnya aku menyesal telah mengikuti anjuranmu, hanya karena kamu ingin seorang anak tanpa aku menikah lagi.”
Laki-laki itu terdiam dengan beban penyesalan yang sarat. Kemudian melanjutkan kalimatnya,
“Tetapi kamu tak pernah memikirkan perasaanku yang hancur, setiap kali aku melihat anak kita, aku merasa berdosa besar.”
Laki-laki itu menangis.
Aku terdiam.Kumasuki kamarku, kutulis beberapa kalimat di dinding kamarku.
“ Papah dan mamah yang kusayangi. Maafkan aku...”
Aku keluar dari kamarku, kukemudikan mobilku dengan kecepatan tinggi. Aku hentikan mobilku di tepi sebuah pantai, kulihat wanita gila itu tengah menangis memanggil-manggil sebuah nama, aku bingung apa yang harus kulakukan, sementara untuk berkomunikasi dengannya tak mungkin bisa. Kuhampiri wanita gila itu, aku duduk di sisinya, ia menoleh ramah padaku.Aku balik memandang dia dan dengan kekuatan yang masih tersisa.kusampaikan satu kalimat kepadannya...
“Ini aku,Bu...Aku Nanang,anakmu”
Ia kemudian mengelus pipiku, mataku,rambutku. Dia tersenyum.Lalu dia tengadahkan wajahnya ke langit, menutup matanya, dan sampaikan senyum. Ucapan terima kasih yang terwakili dengan cara itu. Tak lama kemudian segera ia beranjak pergi sambil tertawa lepas.
Dia pun berlalu dari hadapanku.Kuikuti langkahnya dengan pandanganku yang berlinang airmata.Dan aku berucap lirih :
"Terima kasih,Tuhan.Tolong aku sekali lagi..."
Teriris Rasaku
Diposting oleh
Unknown
di
Kamis, Mei 31, 2012
Berjalan di atas kenisbian hari
terkapar diam di rimbun derita
mampukah aku medeprak dinding batu
yang bertahun-tahun mengekang
kukuh tubuh ini
Matahari tak mampu terangi jiwa
Rembulan datangkan tangis kepedihan
waktu merambah kian menyiksa
detak detik jarum jam
seakan siksaan, getas
Duhai Tuhan,
masih adakah derita lagi di esok hari
sedang, kinipun pedih kulewati
Berkali kubasuh muka
masih saja tampak kisah duka
ingin kupejam mata ini
kupalingkan semua kisah resah
##Kini kau telah hadir menghapus laraku,
bersamamu selamanya dalam cinta yang indah##
terkapar diam di rimbun derita
mampukah aku medeprak dinding batu
yang bertahun-tahun mengekang
kukuh tubuh ini
Matahari tak mampu terangi jiwa
Rembulan datangkan tangis kepedihan
waktu merambah kian menyiksa
detak detik jarum jam
seakan siksaan, getas
Duhai Tuhan,
masih adakah derita lagi di esok hari
sedang, kinipun pedih kulewati
Berkali kubasuh muka
masih saja tampak kisah duka
ingin kupejam mata ini
kupalingkan semua kisah resah
##Kini kau telah hadir menghapus laraku,
bersamamu selamanya dalam cinta yang indah##
Ode Dua
Diposting oleh
Unknown
di
Kamis, Mei 31, 2012
Hidup di dalam derita
Telanjang dengan suara nadi mengolah beban
demi harapan
tuk tinggalkan kenangan
Di kamar kemarau hitam
langkah panjang menepis legam
aku duduk sendiri
merenungi diri
masih sanggupkah aku bertahan
masih adakah penderitaan yang lebih menderita
Serasa hidup dalam gempa bergelora
seperti tangisan ombak di kelam sunyi
samudrapun sampai dikepala gunung
derita tergetar bersama kalbu
bisik bayu tertahan tuk berdoa
di sini kutumpahkan air mata
dari segala sesak menerpa jiwa
##Masa lalu yang telah terkubur
karena kehadiran cintamu yang indah ini##
Telanjang dengan suara nadi mengolah beban
demi harapan
tuk tinggalkan kenangan
Di kamar kemarau hitam
langkah panjang menepis legam
aku duduk sendiri
merenungi diri
masih sanggupkah aku bertahan
masih adakah penderitaan yang lebih menderita
Serasa hidup dalam gempa bergelora
seperti tangisan ombak di kelam sunyi
samudrapun sampai dikepala gunung
derita tergetar bersama kalbu
bisik bayu tertahan tuk berdoa
di sini kutumpahkan air mata
dari segala sesak menerpa jiwa
##Masa lalu yang telah terkubur
karena kehadiran cintamu yang indah ini##
BAGAIMANA MENGATAKAN SAYANG
Diposting oleh
Unknown
di
Kamis, Mei 31, 2012
Bagaimana Mengatakan Sayang.....? Duch romantis banget ya, tapi bukan Rokok Makan Gratis atawa Roman Hati Iblis lho... sekali-kali boleh dong Ade tampil romantis.
Kalau nggak lagi In The Mood nggak gampang ngomongin sayang-sayangan, iya nggak?
Diantara kalian pasti ada yang kesulitan ngungkapin isi di dada, tul kan? (ketebak tuch!)
Si Arjunsing (cowok India) hatinya pataj melulu lantaran nggak bisa ngungkapin perasaan ama si doi, tentu saja si cewek gengsi dong buat ngungkapin duluan, emangnya ganjen, keletah atawa lebih populairnya genit.
Cewek sih biasanya lebih suka sama cowok yang jago ngomongnya, (biarpun belum tentu berisi). Padahal ya, kalau kita cukup peka, bakal ketangkep sinyal-sinyal cinta. Gerak tubuh, pandangan mata, plus cara bicara nggak bisa ngeboongin kalau doi lagi naksir seseorang. Biasanya temen-temen pada tahu duluan dan ngeledekin kita, ya kan.
Biarpun mulut belum bicara tapi mata, plus anggota tubuh lainnya udah ngebocorin rahasia duluan, percaya nggak! Dari nada suara doi bisa nangkep perasaan kita, bila lagi ngebet sayangnya, tuh suara mesra banget, tapi kalau lagi sebel, wah jelek banget deh suara. Seringnya kita nggak kerasa, kadang kita nggak mau kalau doi tau kita naksir doi, tapi sorot mata kita " Mata itu sering dibilang Jendela Hati " matamu yang teduh, matamu sedalam telaga, matamu yang bening. Banyak lagi deh kata-kata puitis lainnya.
Dalam pesta waktu kita lagi meleng, tiba-tiba doi dipepetin ama orang lain. Wah udah deh hati plus dada jadi panas alias resah, helisah, emosi dan malu-maluin. Mimik muka juga berpengaruh lho. Ada kan yang bilang " Wajah Bagaikan Kitab Terbuka " Nyata bener kelihatan di sana, gerak bibir, kerut keningnya, kejap matanya ataupun kempisnya cuping hidungnya, dibarengin rongga dada yang tiba-tiba tegak. Hebring deh pokoknya.
Pointnya nih, coba inget-inget deh sambil ngebayangin satu persatu, Non Verbal Communicatio, apa yang udah pernah kita lakukan. Bibir boleh aja berat buat bicara rahasia hati, tapi bagian tubuh yang lainnya dengan senang hati mewakilinya, coba deh ngeberaniin diri ngungkapinnya, jangan dipendam terus entar basi, bulukan.
Dengan penampilan yang bikin doi tertarik tentunya, jangan nyebel-nyebelin entar si doi malahan nolak kan berabe tuh, kalau masih sukar ngomongnya, tatap aja matanya, Kulihat Cinta di Bola Matamu.
Memaknai Arti Kehilangan
Diposting oleh
Unknown
di
Kamis, Mei 31, 2012
Ada seorang perempuan yang merasa sangat kehilangan saat ditinggal mati suami yang sangat dicintainya. Demikian besar rasa cintanya, sehingga ia memutuskan untuk mengawetkan mayat suaminya dan meletakkannya di dalam kamar.
Setiap hari, dia menangisi suaminya yang telah menemaninya bertahun-tahun. Wanita itu merasa dengan kematian suaminya, maka tidak ada lagi makna dari hidup yang dijalaninya.
Cerita tentang wanita itu terdengar oleh seorang pria bijak yang juga terkenal memiliki kesaktian yang tinggi. Didatanginya wanita tersebut, dan dia mengatakan bisa menghidupkan kembali suaminya. Dengan syarat dia meminta disediakan beberapa bumbu dapur yang mana hampir setiap rumah memilikinya. Namun, ada syarat lain, bumbu dapur tersebut harus diminta dari rumah yang anggota keluarganya belum pernah ada yang meninggal dunia sama sekali.
Mendengar hal itu, muncul semangat di hati sang wanita tersebut. Dia berkeliling ke semua tetangga dan berbagai penjuru tempat. Setiap rumah memiliki bumbu dapur yang diminta oleh si orang bijak, tapi setiap rumah mengaku pernah mengalami musibah ditinggal mati oleh kerabatnya. Entah itu orang tua, suami, nenek,
kakek, adik, bahkan ada yang anaknya sudah meninggal.
Waktu berjalan dan tidak ada satu pun rumah yang didatanginya bisa memenuhi syarat yang dibutuhkan. Hal ini menjadikan wanita tersebut sadar, bahwa bukan hanya dirinya yang ditinggal mati oleh orang yang disayanginya.
Akhirnya, dia kembali mendatangi si orang bijak dan menyatakan pasrah akan kematian suaminya. Hingga kemudian dia menguburkan mayat suaminya, dan menyadari bahwa semua orang pasti pernah mengalami masalah sebagaimana yang dihadapinya.
Pesan dari kisah di atas adalah,
jangan pernah menganggap bahwa masalah yang ada pada kita merupakan masalah yang paling besar,sehingga kita mengorbankan waktu hanya untuk terus meratapi musibah tersebut. Yakinlah, bahwa semua orang di dunia ini pernah mengalami musibah, apapun bentuknya. Yang membedakan adalah bagaimana seseorang menghadapi dan menyikapi masalah yang ada pada dirinya. :-)
BAGAIMANA CARA MENGUKUR SKALA PENYESALAN MANUSIA
Diposting oleh
Unknown
di
Sabtu, Mei 26, 2012
Seseorang yang memiliki pengharapan lebih pada umumnya lebih sensitif terhadap segala bentuk penyesalan dibandingkan seseorang yang mudah puas, khususnya mereka yang terkenal memiliki penyesalan dalam hal pembelian barang atau layanan jasa. Demikian dinyatakan oleh K. Johnson dalam sebuah penelitian yang bertajuk Feeling Powerless in a World of Greater Choice dan diterbitkan oleh New York Times tahun 2000.
K. Johnson menambahkan, jika Anda seorang yang mudah puas dan Anda memilih barang yang cukup baik untuk memenuhi standar Anda, Anda cenderung tidak begitu peduli jika ada sesuatu yang lebih baik di toko lain. Sungguh berat menjalani hidup dengan menyesali setiap keputusan yang telah Anda buat, karena merasa keputusan tersebut mungkin bukan yang terbaik. Dan jika Anda terus-menerus mengalami penyesalan, hal tersebut akan merampas setidaknya sebagian dari kepuasan atau keputusan baik yang Anda ambil.
American Psychological Association mengadakan penelitian tentang skala penyesalan. Hasilnya sungguh dramatis. Hampir semua orang yang memiliki pengharapan tinggi dalam hidup mereka, juga memiliki nilai tinggi pada uji skala penyesalan. Apa saja faktor penilaian yang dipakai dalam skala penyesalan? Berikut ini beberapa pernyataan yang dijadikan ukuran penyesalan.
- Sekali saya membuat keputusan, saya tidak akan mengubahnya lagi.
- Kapan pun saya mengambil suatu pilihan, saya ingin tahu apa yang akan terjadi jika saya
- memilih keputusan yang berbeda.
- Jika saya membuat keputusan dan hasilnya baik, saya masih merasa gagal jika saya tahu bahwa keputusan lain mungkin menghasilkan sesuatu yang lebih baik.
- Kapan pun saya mengambil sebuah pilihan, saya akan mencari informasi tentang bagaimana jadinya alternatif lain seandainya saya memilihnya.
- Ketika saya berpikir tentang kehidupan, saya sering menilai kesempatan-kesempatan yang saya lewatkan.
Untuk menilai posisi diri Anda pada skala ini, masukkan sebuah angka antara 1 (mewakili sangat tidak setuju) sampai 7 (mewakili sangat setuju) di samping setiap pernyataan. Kemudian, kurangi angka yang Anda cantumkan di samping pernyataan pertama itu dengan angka 8, dan jumlahkan hasilnya dengan angka berikutnya. Semakin tinggi nilai Anda, semakin rentan sikap Anda terhadap tumbuhnya penyesalan. Selamat mengukur penyesalan diri Anda sendiri!
Manakala Hidupmu Tampak Susah Untuk Dijalani...
Diposting oleh
Unknown
di
Sabtu, Mei 26, 2012
Seorang professor berdiri di depan kelas filsafat dan mempunyai beberapa barang di depan mejanya. Saat kelas dimulai, tanpa mengucapkan sepatah kata, dia mengambil sebuah toples mayones kosong yang besar dan mulai mengisi dengan bola-bola golf. Kemudian dia berkata pada para muridnya, apakah toples itu sudah penuh? Mahasiswa menyetujuinya.
Kemudian professor mengambil sekotak batu koral dan menuangkannya ke dalam toples. Dia mengguncang dengan ringan. Batu-batu koral masuk, mengisi tempat yang kosong di antara bola-bola golf.
Kemudian dia bertanya pada paramuridnya, Apakah toples itu sudahpenuh? Mereka setuju bahwa toples itu sudah penuh.
Selanjutnya profesor mengambil sekotak pasir dan menebarkan ke dalam toples...Tentu saja pasir itu menutup segala sesuatunya. Profesor sekali lagi bertanya apakah toples sudah penuh? Para murid dengan suara bulat berkata, "Yaa!"
Profesor kemudian menyeduh dua cangkir kopi dari bawah meja dan menuangkan isinya ke dalam toples, dan secara efektif mengisi ruangan kosong di antara pasir.
Para murid tertawa...
Ketika suara tawa mereda, Sang Profesor melanjutkan,
"Saya ingin kalian memahami bahwa toples ini mewakili kehidupanmu.Bola-bola golf adalah hal-hal yang penting - Tuhan, keluarga, anak-anak, kesehatan, teman dan parasahabat. Jika segala sesuatu hilang dan hanya tinggal mereka, maka hidupmu masih tetap penuh. Batu-batu koral adalah segala hal lain, seperti pekerjaanmu, rumah dan mobil.Pasir adalah hal-hal yang lainnyayang sepele.Jika kalian pertama kali memasukkan pasir ke dalam toples,maka tidak akan tersisa ruangan untuk batu koral ataupun untuk bola-bola golf. Hal yang sama akan terjadi dalam hidupmu.Jika kalian menghabiskan energi untuk hal-hal sepele, kalian tidak akan mempunyai ruang untuk hal-hal yang penting buat kalian. Jadi...Berilah perhatian untuk hal-hal yang kritis untuk kebahagiaanmu. Bermainlah dengan anak-anakmu.Luangkan waktu untuk check up kesehatan. Ajak pasanganmu untuk keluar makan malam. Akan selalu ada waktu untuk membersihkan rumah, dan memperbaiki mobil atau perabotan.Berikan perhatian terlebih dahulu kepada bola-bola golf - Hal-hal yang benar-benar penting. Atur prioritasmu. Baru yang terakhir, urus pasir-nya."
Salah satu murid mengangkat tangan dan bertanya, "Kalau Kopi yg dituangkan tadi mewakili apa?"
Profesor tersenyum,"Saya senang kamu bertanya. Itu untuk menunjukkan kepada kalian, sekalipun hidupmu tampak sudah begitu penuh, tetap selalu tersedia tempat untuk secangkir kopi bersama sahabat"
Ayah
Diposting oleh
Unknown
di
Sabtu, Mei 26, 2012
Kubelai sekuntum kenangan
engkau menjelma
di akhir mimpi
aku semakin pilu
Ayah,
seribu langit kini telah membeku
semua hilang mensirnakan kita
namun,
aku masih mampu menemukan kembali
Rumput-rumput masih menghijau
gelombang pelangi masih di sini
dan gunung-gunung pun masih ada
untuk dijadikan puisi bukti
Ayah,
maafkan aku
jikalau tanda itu untuk kita yang terakhir
Selamat jalan ayah
bahagia di alammu yang baru
How to be a Godly Mother in an Ungodly Word - BAGAIMANA MENJADI IBU YANG SALEH DI DUNIA YANG TIDAK SALEH
Diposting oleh
Unknown
di
Sabtu, Mei 26, 2012
Seorang anak duduk di depan rumahnya ia melihat ayahnya lalu ia berkata,
“Hanya diantara kita ya ayah, saya juga tidak bisa cocok dan akrab dengan istri anda”
Pada tanggal 13 Mei 2012 kita menyelenggarakan Hari Ibu International. Sering kita simak, dengar mengenai ibu-ibu yang melakukan hal-hal jahat, namun saya percaya banyak orang mempunyai ibu yang baik yang berusaha melakukan yang terbaik, termasuk ibu saya sendiri adalah seorang ibu yang baik. Tidak ada ibu yang sempurna/menjadi seorang ibu bukanlah pekerjaan yang mudah. Kultur kita telah membentuk suatu nilai-nilai kehidupan bahwa kebahagiaan melalui pencapaian individual adalah hal yang utama dalam hidup. Bahaya perceraian, dukungan dalam perbuatan asusila dan kesibukan pencapaian keinginan pribadi telah mengambil banyak korban dalam keluarga.
A. Cintailah dan Hargailah Suamimu Selamanya.
Hubungan pernikahan punya prioritas. Ibu-ibu yang saleh harus mencintai dan menghargai suami-suami mereka di dunia yang tidak saleh ini.
B. Cintailah anak-anakmu selamanya.
Mencintai anak-anak bukan berarti memberikan apapun yang mereka inginkan, memastikan mereka tidak ketinggalan jaman.
C. Pengendalian diri.
Hidup yang bijaksana, hidup dengan akal sehat. Wanita muda haruslah berpikir mengenai apa yang sedang ia lakukan dengan hidupnya. Hendaklah berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana.
D. Hidup Bersih.
Setiap wanita haruslah memiliki hati yang suci, rendah hati dalam hati, pikiran dan tingkah laku. Hidup bersih dalam hal berkata-kata, berpakaian dan dalam setiap hubungan.
C. Tunduk kepada suami.
Suami mempunyai kuasa yang lebih besar karena memiliki tanggung jawab yang lebih besar.Janganlah merendahkan suami yang penghasilannya lebih rendah di bawah kita. Karena bagaimanapun juga kita adalah seorang ibu.
Menjadi seorang ibu amatlah susah, harus memiliki wawasan luas sebagaimana layaknya seorang psikologis, tabah seperti layaknya seorang tentara, lembut bagaikan perawat,rajin bagaikan pekerja dan ahli dalam bernegoisasi seperti seorang guru, tukang listrik, tukang pipa dan tukang kayu.Ini semua membutuhkan tenaga, kesabaran yang tak habis-habisnya. Kesabaran besar, keinginan baja, kesadaran akan fakta memperhatikan suami dan anak-anak.
Menjadi ibu tidaklah mudah, oleh karena itu kita harus sering mendoakan ibu-ibu kita.
“Hanya diantara kita ya ayah, saya juga tidak bisa cocok dan akrab dengan istri anda”
Pada tanggal 13 Mei 2012 kita menyelenggarakan Hari Ibu International. Sering kita simak, dengar mengenai ibu-ibu yang melakukan hal-hal jahat, namun saya percaya banyak orang mempunyai ibu yang baik yang berusaha melakukan yang terbaik, termasuk ibu saya sendiri adalah seorang ibu yang baik. Tidak ada ibu yang sempurna/menjadi seorang ibu bukanlah pekerjaan yang mudah. Kultur kita telah membentuk suatu nilai-nilai kehidupan bahwa kebahagiaan melalui pencapaian individual adalah hal yang utama dalam hidup. Bahaya perceraian, dukungan dalam perbuatan asusila dan kesibukan pencapaian keinginan pribadi telah mengambil banyak korban dalam keluarga.
A. Cintailah dan Hargailah Suamimu Selamanya.
Hubungan pernikahan punya prioritas. Ibu-ibu yang saleh harus mencintai dan menghargai suami-suami mereka di dunia yang tidak saleh ini.
B. Cintailah anak-anakmu selamanya.
Mencintai anak-anak bukan berarti memberikan apapun yang mereka inginkan, memastikan mereka tidak ketinggalan jaman.
C. Pengendalian diri.
Hidup yang bijaksana, hidup dengan akal sehat. Wanita muda haruslah berpikir mengenai apa yang sedang ia lakukan dengan hidupnya. Hendaklah berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana.
D. Hidup Bersih.
Setiap wanita haruslah memiliki hati yang suci, rendah hati dalam hati, pikiran dan tingkah laku. Hidup bersih dalam hal berkata-kata, berpakaian dan dalam setiap hubungan.
C. Tunduk kepada suami.
Suami mempunyai kuasa yang lebih besar karena memiliki tanggung jawab yang lebih besar.Janganlah merendahkan suami yang penghasilannya lebih rendah di bawah kita. Karena bagaimanapun juga kita adalah seorang ibu.
Menjadi seorang ibu amatlah susah, harus memiliki wawasan luas sebagaimana layaknya seorang psikologis, tabah seperti layaknya seorang tentara, lembut bagaikan perawat,rajin bagaikan pekerja dan ahli dalam bernegoisasi seperti seorang guru, tukang listrik, tukang pipa dan tukang kayu.Ini semua membutuhkan tenaga, kesabaran yang tak habis-habisnya. Kesabaran besar, keinginan baja, kesadaran akan fakta memperhatikan suami dan anak-anak.
Menjadi ibu tidaklah mudah, oleh karena itu kita harus sering mendoakan ibu-ibu kita.
Langganan:
Postingan (Atom)
















