ada laut yang kusebut luka
terlanjur terbelah
melambungkan nyeri di urat darah
Aku lahir dari wangi rahim bunda
mereguk air susu di tiap tetesnya
tersenyum kau timang aku mesra
bersenandung sholawat dan zikir
Kukepang sendiri kata maaf
agar juntainya menembus telak
di balik wajah ayumu bunda
di riak amarah terbawa serta
agar tak kudengar lagi
betapa gentingnya kau menghela nafas
Haruskah kandas
sebuah mimpi yang sudah cukup indah
dengan kesal dalam kegagapan
pada keluh dan tanda tanya
Salah tiada luput dari jiwa
sengketa tak perlu terbentang di meja
kucium mesra bayang pesonamu
di ribuan kasih yang kau semat
Jika kau tatap langit nan biru
akupun menatap langit yang sama
mengumpulkan kuntum-kuntum rindu
menunggu musim menuai impian
Kelak kau paham
telah kusulam air mata di sajadaqh indah
tercurah mesra kisah
dari kasih ananda yang tak kunjung usai
padamu bunda.
Mama,
aku buka jendela ya?
supaya ada udara baru
aku menyukai warna warni sepertimu,
jangan biarkan kanvas hidup kita keruh

0 komentar:
Posting Komentar