Nyi Mas Rd Ade Titin Saskia Darmawan, terlahir di Bandung 31 Oktober 1981.Yang kesehariannya disibukkan sebagai Konsultan Akutansi ini tak luput menulis di sela-sela waktu luangnya, menulis cerpen, puisi yang sudah menjadi kebiasaann sejak bersekolah dulu. Selain sebagai Konsultan Akutansi di Biro Konsultan dan Interior Designt Nusa C di Denpasar Bali. Pernah bekerja di Jepang sebagai Konsultan Akutansi di Kawamoto Kenshushei. Pernah menjadi penyiar di beberapa radio swasta di Bali, menjadi MC dan nyanyi di beberapa acara yang masih digelutinya hingga kini.
Tahun 2006 Bersama Bapak Puspayoga, Tata Rama Production dan Koran Bali menggelar Acara Lomba Baca Puisi Piala Wali Kota Denpasar tingkat SD, SMP,SMA dan Umum yang diikuti oleh 900 peserta.
Kehidupan pewartaan yang pernah dijalaninya:
Mengasuh Sastra dan Budaya di Koran Bali, Koran Patroli Pos, Koran Patroli Nusantara, Majalah Amertha, Majalah Stamina, Redaktur Majalah Ekspresi, Majalah Mesra Jogjakarta, Majalah Suluh, Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia. Bali Pos.
Berkesenian masih digelutinya hingga kini dari bernyanyi hingga berteater,
Buku Yang Sudah Terbit :
- Antologi Puisi Bersama 50 Penyair Nusantara "Negeri Sembian Matahari"
- Antologi Puisi Sendiri "Aksara Jiwa"
- Antologi Puisi Sastrawan Indonesia 2014
- Antologi Puisi Bersama 10 Penyair Bali "Irama Tanah Air"
Buku Yang Akan Diterbitkan :
- Antologi Puisi Bersama 20 Penyair Nusantara "Karena Itu Engkau Kusebut Ibu"
- Antologi Bersama 15 Penyair Nusantara "Dialog Ruang" Antologi Puisi Bersama Fanny Jonathan Poyks "Dua Sisi"
- Antologi Puisi Bersama David Darmawan Siswandi "Rendezvous"
- Antologi Puisi Sendir "Aku Dan Kehadiranmu"
- Antologi Puisi Sendiri "Bianglala Kehidupan"
Email : adetitinsaskia@hotmail.com
Tahun 2006 Bersama Bapak Puspayoga, Tata Rama Production dan Koran Bali menggelar Acara Lomba Baca Puisi Piala Wali Kota Denpasar tingkat SD, SMP,SMA dan Umum yang diikuti oleh 900 peserta.
Kehidupan pewartaan yang pernah dijalaninya:
Mengasuh Sastra dan Budaya di Koran Bali, Koran Patroli Pos, Koran Patroli Nusantara, Majalah Amertha, Majalah Stamina, Redaktur Majalah Ekspresi, Majalah Mesra Jogjakarta, Majalah Suluh, Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia. Bali Pos.
Berkesenian masih digelutinya hingga kini dari bernyanyi hingga berteater,
Buku Yang Sudah Terbit :
- Antologi Puisi Bersama 50 Penyair Nusantara "Negeri Sembian Matahari"
- Antologi Puisi Sendiri "Aksara Jiwa"
- Antologi Puisi Sastrawan Indonesia 2014
- Antologi Puisi Bersama 10 Penyair Bali "Irama Tanah Air"
Buku Yang Akan Diterbitkan :
- Antologi Puisi Bersama 20 Penyair Nusantara "Karena Itu Engkau Kusebut Ibu"
- Antologi Bersama 15 Penyair Nusantara "Dialog Ruang" Antologi Puisi Bersama Fanny Jonathan Poyks "Dua Sisi"
- Antologi Puisi Bersama David Darmawan Siswandi "Rendezvous"
- Antologi Puisi Sendir "Aku Dan Kehadiranmu"
- Antologi Puisi Sendiri "Bianglala Kehidupan"
Email : adetitinsaskia@hotmail.com
MENGAPA SANGATLAH SULIT MENGEMBANGKAN SIFAT SABAR DALAM HIDUP
Diposting oleh
Unknown
di
Senin, Juni 18, 2012
Keinginan untuk menjadi orang sabar tidaklah semudah yang dibayangkan
A. Alasan Pertama Mengapa mengembangkan rasa sabar sangatlah susah
dikarenakan ini tidak sesuai dengan sifat dasar manusia. Kita tidak dilahirkan menjadi penyabar.
Saat bayi kita bangun tengah malam karena lapar, atau popok basah. Kita menangis secara tidak sabar. Sampai akhirnya mendapatkan perhatian yang kita butuhkan.
B. Alasan Kedua adalah : adanya akar-akar kesombongan, egois dan kemarahan
yang bisa menghambat pertumbuhan buah kesabaran dalam hidup kita.
Suatu ketika mobil seorang bapak mogok di saat lampu merah berubah menjadi lampu hijau. Segala usahanya untuk membuat mesinnya hidup kembali gagal dan bunyi-bunyi klakson mobil di belakangnya membuat bapak itu akhirnya keluar dari mobil dan menghampiri pengendara mobil di belakangnya.
"Maaf, saya sepertinya tidak bisa membuat mobil saya jalan, bisakah anda mencobanya dan saya akan mengklakson anda dari sini!"
C. Alasan Ketiga: Sifat sabar berlawanan dengan kultur kita. Kita tidak hidup di tengah kultur yang relax.
Kita dahulu hidup di tengah-tengah kehidupan yang punya gaya hidup "Pelan-pelan asal selamat"
namun sekarang semuanya berubah. Kita lebih terburu dan lebih tegang dan gelisah.
Ini semua karena kita hidup di jaman yang bergerak cepat dan maju, di dunia makanan cepat saji. Semuanya serba kilat, makanan instant, alat cepat masak/microwave, kamera instant. Semua serba cepat.
D. Alasan keempat: Dikarenakan kita telah diyakinkan bahwa ketidaksabaran itu juga adalah sifat yang baik.
Kita menyukai orang-orang yang mempunyai sifat kepemimpinan yang kuat.
Yang senang mengatur dan menginginkan segala sesuatu selesai dengan cepat. Tapi:
"Orang-orang yang sabar besar Pengertiannya
dan Orang-orang yang cepat marah membesarkan kebodohan'
Orang yang sabar selalu memadamkan perbantahan karena kesabaran adalah sifat baik dan penting sekali kita mengembangkan sifat ini dalam kehidupan kita.
PENTINGNYA MEMBINA HUBUNGAN BAIK ANTARA MANUSIA DAN MANUSIA DAN ANTARA MANUSIA DENGAN TUHAN
Diposting oleh
Unknown
di
Senin, Juni 18, 2012
SEBUAH KISAH:
Intan anak penurut pada kedua orang tuanya dan rajin beribadah. Hidup dalam keluarga yang berkecukupan. Ketika remaja Intan mengalami berbagai pengalaman pedih dalam hidupnya.
Awal penderitaannya adalah ketika ayah yang disayang dan dibanggakannya meninggal dunia. Intan merasa terpukul dan kehilangan.
Intan sangat berhati-hati dalam bergaul dan taat beribadah. Namun suatu ketika sahabatnya sendiri mengkhianatinya. Intan diperkosa karena Intan menolak cinta sahabatnya. Sejak kejadian itu Intan menjadi gadis yang rapuh dan kehilangan arah. Hari-haripun di lalui Intan dan kejadian-kejadian pahitpun terus menerpa. Akhirnya Intan mulai tidak percaya pada orang-orang disekitarnya karena Intan menganggap hubungan dengan orang lain hanya membuat petaka dan kecewa.
Intan mulai bercerita tentang kisah dukanya pada minuman keras, karena dengan itu ia menganggap pikitrn akan tenang. Parahnya lagi Intan yang dulu taat beribadah setelah menemukan kejadian demi kejadian pahit walau rajin beribadah akhirnya Intan mulai menjauh dari Tuhan. Bahkan meragukan keberadaan Tuhan. Begitu rapuhnya Intan sehingga Imannya pun rapuh.
Suatu ketika Intan yang selama ini meragukan kebaikan laki-laki karena trauma yang dalam. Namun akhirnya Intan tak bisa lagi mengelak kalau Intan dan laki-laki itu saling mencintai.
Intan mulai berfikir bahwa rasa cintanya yang selama ini berusaha ia abaikan karena trauma
kini ia tidak bisa mengelak.
Siapakah pemberi rasa cinta ini?
Kenapa rasa cinta ini datang?
Kemudian Intanpun bertemu dengan seorang bocah pengamen. Dan setelah menerima uang dari Intan. Bocah itu mengangkat tangannya dan berkata:
"Tuhan, terimakasih telah kau datangkan rizki'Mu lewat hamba'Mu yang kau pilih, sehingga aku dapat mengganjal perutku yang lapar."
Intan menangis iba melihat tingkah laku bocah itu. Intan tersadar bahwa ia telah salah jalan selama ini.
Dari kisah Intan tentu kita bisa menjadikan cermin bahwa:
Manusia tidak bisa lepas berhubungan dengan manusia,
apalagi dengan Sang Pencipta/Tuhan.
A. Suka ataupun tidak suka. Tetap ada orang lain di kehidupan kita. Kita tidak dapat mencapai kesuksesan tanpa memperhitungkan orang lain.
B. Tuhan Yang Maha Segalanya yang telah menciptakan Langit dan Bumi beserta isinya yang tak terhingga. Manusia akan benar-benar berada dalam kerugian besar jika tidak beriman kepada Tuhan.
Tuhan menciptakan manusia dari segumpal darah.
Tuhan tiada meninggalkan kita dan tiada membenci kita.
karena Dia amat penyayang, pemberi, pelindung.
Sesungguhnya orang-orang yang selalu dekat dan bertaqwa pada Tuhan
akan selalu mendapatkan kemenangan.
Suatu hari aku berjalan di pantai bersama Tuhan.
Pada setiap episode perjalanananku yang penuh dengan anugrah yang diberikanNya untukku.
Ku lihat dua pasang jejak kaki di hamparan pasir di pantai. Sepasang jejak kakiku dan sepasang lagi jejak kaki Tuhan.
Tetapi....
Ketika episode kelam dalam kehidupanku, aku melihat hanya ada sepasang jejak kaki saja di pasir pantai.Tuhan telah meninggalkanku....Lalu aku bertanya kepada Tuhan: "Tuhan, mengapa kau meninggalkanku di saat aku sangat membutuhkanmu!"
Kata Tuhan :
"Kau begitu istimewa. Aku tak pernah meninggalkanmu di kala kekelaman melanda hari-harimu. Jika kau hanya melihat sepasang jejak kaki saja di pantai...itu karena Aku menggendongmu!"
4 (EMPAT) CARA YANG BISA MENGEMBANGKAN KESABARAN
Diposting oleh
Unknown
di
Senin, Juni 18, 2012
1. BERGANTUNG PADA TUHAN
Dekatkan diri pada Tuhan…
Melakukan Perintah’Nya…
Menjauhi Larangan’Nya…
Sebab di luar kekuasaan’Nya kita tidak dapat berbuat apa-apa.
Kita tidak bisa memiliki sifat kasih, kedamaian, kebaikan, kesaabaran.
Kecuali kita berjalan di jalan’Nya.
Kita akan memiliki keteduhan dengan doa-doa yang kuat.
2. SLOW DOWN
Tubuh kita memerlukan istirahat…
Pikiran kita juga memerlukannya…
Jiwa kita sangat membutuhkannya…
Kita memerlukan waktu menyerap Pengajaran’Nya.
Apa yang telah Dia berikan pada kita.
Pergunakanlah waktu istirahat dan libur anda dengan baik dan dengan hal-hal yang bermanfaat.
3. MENGABAIKAN FRUSTASI-FRUSTASI KECIL DALAM HIDUP
Seorang lelaki tengah membonceng seorang wanita dengan sepeda di jalan yang berbatu-batu.
Dalam perjalanan lelaki itu selalu mengeluh mengenai jalan yang rusak.
Pada akhirnya si wanita yang dibonceng berkata :
“Hey, Bung…Ayolah…Jangan terlalu memikirkan hal-hal kecil.”
Ilustrasi cerita di atas Ini sangatlah bermanfaat buat kita.
Tetapi bagaimana apabila kita menemukan masalah-masalah besar dan tidak bisa kita atasi.
Apa yang kita lakukan bila seorang dokter mengatakan kepada kita “Anda menderita penyakit kanker?”
atau pada saat pasangan anda meninggalkan anda. atau pada saat anda kehilangan pekerjaan.
Jawabannya ada point (4)
4. MENGETAHUI BAHWA TUHAN YANG BERKUASA
Di dalam kehidupan ini ada beberapa hal yang tidak bisa kita kendalikan dan kejadian-kejadian tersebut tidak bisa dihadapi tanpa bantuan Tuhan.
Tuhan akan berjuang untuk kita.
Tuhan sangat mencintai kita.
Dialah sumber perlindungan kita. Sumber kekuatan dan sumber dari segala sumber.
Ia maha penghibur. Merawat dan menguatkan kita.
Begitu kita mengikhlaskan sesuatu, maka kita telah menyerahkan hal itu pada Tuhan sehingga kecerdasan alam yang akan bekerja pada kita dengan mekanisme yang sulit di pahami oleh pikiran kita.
Kesabaran adalah pengertian baik yang mengutuhkan doa, tindakan dan penantian.
Sabar itu sibuk…Engkau yang sibuk belajar dan bekerja, mengisi waktu dengan hal-hal bermanfaat tak kan sempat memikirkan kesabaran.
Tuhan melihatmu dengan haru…
Karena dalam penantianmu engkau menyibukkan dirimu dengan pergaulan dan pekerjaan yang beguna…Wahai jiwa yang damai, kesabaranmu adalah tanda keikhlasanmu…dalam menerima kepastian Janji Tuhan.
Salam Rindu buat Bunda
Diposting oleh
Unknown
di
Selasa, Juni 12, 2012
Ada duka menyelimuti bathinmu
kulihat borok luka dalam
merobek-robek hati nan tajam
Ada kata yang tak pernah hilang
dari ukiran darah di sekujur tubuhku
Adalah kata cinta selalu
Yang berurat dan berakar
di kota rantau ini
Aku pahami dan kuhayati
dalam diam dalam pejam
dalam lena dalam segala yang ada
kian menyayat kalbu
Adakah kebenaran
Terangkat dari pesonamu bunda
berharap suci berdapat tangis
rindupun seakan melayang bimbang
Entah apa harus dikata
Kata-kata tiada berguna lagi
Jalanmu adalah terang
bagi dirimu dan bahagiamu
namun semua
adalah tangisan di kegetiranku
## Hatimu Bagai Pualam,
maafkan aku Bunda, aku sangat mencintaimu ##
Ketika Hati Bicara
Diposting oleh
Unknown
di
Selasa, Juni 12, 2012
PERNAHKAH KAMU BERFIKIR UNTUK BERPALING DARI MASA LALU?
BERJALAN DENGAN TEGAP MENATAP HARI ESOK YANG BARANGKALI BISA LEBIH CERAH DARI HARI LALU
Berkali-kali Dara mencoba untuk menata kembali hari-hari yang pernah dilaluinya, lebih banyak duka ketimbang suka. Tetapi Dara selalu berusaha untuk tetap tabah.
“Kamu adalah gadis dingin dan tertutup, bisa jadi orang menganggapmu gadis yang angkuh.” Kalimat itu begitu singkat, tetapi amat menusuk hatinya. Itulah kalimat yang sering diucapkan teman-temannya.Kritik seperti itu terkadang Dara perlukan, setidaknya untuk evaluasi diri, sungguhkah apa kata-kata mereka ataukah hanya mengada-ngada, terlalu mendramatisir keadaan.
Dara terlalu pandai memilih kata-kata sehingga tak seorangpun tahu betapa hatinya terluka, terpojok. Dara paling benci dengan julukan ‘Gadis Yang Dingin’ Ditelinganya istilah itu berkonotasi negatif
.
Hampir semua mata menilai Dara cewek yang angkuh, yang selalu mampu melakukan apa-apa sendiri, yang selalu dalam hidupnya tak memerlukan lagi uluran tangan orang lain, apalagi itu dari kaum adam. Entah mengapa Dara begitu dingin dengan yang namanya laki-laki.
“Kamu teramat angkuh dan dingin Ra.” Herdy menghela nafas dan meneruskan ucapannya.
“Aku memang suka menggodamu, karena aku suka kamu dan teramat menyayangimu, tetapi apakah kesinisanmu adalah satu-satunya cara untuk membalasnya?” Herdy terus nyerocos, kalimat demi kalimat yang dilontarkannya seakan memang diperuntukkan memprotes sikap Dara.
“Mereka dan kamu, baru menilaiku dengan mata bukan dengan hati, padahal baik mata dan hati harus sama-sama berbicara, itu baru penilaian yang obyektif.” Dara mempermainkan kunci motornya.
“Maaf Ra, aku nggak bermaksud mengkritikmu.” Herdy meyakinkan Dara, ada penyesalan di bola matanya.
“Aku amat menyayangimu, Ra.” Kata Herdy datar.
“Oh, Ya!” Suara Dara dengan nada mengejek.
“Jangan-jangan benar kata teman-teman, kamu gadis dingin dan hanya mencintai kaummu sendiri.” Herdy amat kesal.
“Terserah apa penilaianmu, aku nggak perduli, okey!” Dara tersenyum, tak ada nada amarah dalam kalimatnya. Nadanya terlalu tenang, hingga mampu memendam kemarahan yang sudah membara di dadanya. Betapa tidak, Herdy adalah cowok yang sekian lama memburunya. Tetapi Dara tak bisa mencintainya, karena Cinta Dara telah hilang ditelan kegelapan, pergi bersama masa lalunya yang kejam.
Dara menyusuri pantai kuta seorang diri, dibiarkannya air laut membasahi bagian bawah jeans’nya. Sore ini Dara benar-benar ingin menikmati udara pantai, ia sengaja menunggu matahari terbenam. Dihampirinya seorang wanita tua pedagang kopi lesehan di pinggir pantai, ia duduk di akar sebuah pohon besar.
“Kopinya satu bu!” Wanita tua itu tersenyum menyambut Dara.
Pandangan Dara tak lepas dari ombak yang menggulung. Dara teringat masa kecilnya yang penuh canda ria dalam keluarga yang begitu harmonis dan berkecukupan. Dara teramat dimanja oleh ayah, ibu serta kakak-kakaknya. Dara teringat saat-saat di bangku SMA, di mana teman-temannya menghabiskan waktu dengan pacar-pacar mereka, namun Dara hanya bermanja-manja di pangkuan ayahnya, air mata Dara menetes, bayangan wajah ayahnya muncul di angannya, wajah yang tenang dengan senyum wibawanya. Sikap bijak ayahnya, betapa Dara sangat merindukan saat-saat indah bersama ayahnya.Dara sangat mengagumi sosok ayahnya yang begitu penuh wibawa dan menyayanginya menuntun Dara menjadi gadis yang tabah. Dengan segenap kemampuan, Dara mencoba menjadi gadis yang baik di mata ayah dan ibunya sehingga masa-masa SMA, masa-masa indah untuk mengenal cinta kata orang, namun Dara hanya melaluinya dengan bermanja-manja pada ayahnya atau berdiam diri dalam kamar menikmati buku-buku, tak heran jika Dara memiliki prestasi yang bagus.
Hati Dara mulai teriris, seakan dadanya sesak kala teringat bayang menakutkan itu. Saat ia berlari tanpa alas kaki, menjerit mencoba meminta pertolongan dengan nada suara yang lemah. Oh Tuhan! Sekian lama kujaga mahkota kewanitaanku namun dirampas oleh sahabatku sendiri yang tak pernah kucintai, hanya karena penolakan cinta dariku ia tega menghancurkan masa depanku dengan memperkosaku. Dara menangis. Sejak saat itu Dara tak pernah percaya dengan mulut manis laki-laki. Karena bagi Dara laki-laki hanyalah serigala. Itulah awal Dara menjadi gadis yang dingin.
Dara kembali meneteskan air matanya ketika terngiang kembali suara dokter Hendro,
“Kamu positif mengidap Leukimia” Air mata Dara terus menetes.
Ya Tuhan! Betapa menyakitkan keadaan diri, hanya kepasrahan yang bisa kulakukan karena aku tahu semua ini sudah diatur oleh’MU. Andai saja ayah masih ada di dunia ini, tentu aku tak sesedih ini.
“Nak, ini kopinya.” Suara itu membuyarkan lamunan Dara.
“Mengapa menangis?” Tanya wanita tua itu.
“Ah. Nggak kok bu.” Dara menghapus air matanya dengan jemarinya, wanita itu tersenyum.
“Help me, help me!” Sebuah suara yang cukup lantang membuat Dara dan wanita tua itu mengalihkan pandangannya ke arah suara itu, beberapa orang mulai berlarian mendekati pemilik suara itu yang ternyata adalah seorang tamu asing.
“Yah, copetnya sudah kabur.” Kata seorang penyelamat pantai.
“Aneh-aneh ya cara orang cari nafkah.” Kata Dara pada wanita tua itu sambil menyodorkan selembar lima ribuan. Wanita itu tersenyum dan mengambil uang dari tangan Dara.
“Jaman sekarang jaman edan, semua cara dianggap halal, tapi ibu sih mending jualan kopi saja, halal, habisnya mau korupsi juga nggak ada lahannya, orang miskin, korupsinya kecil jadi ya percuma korupsi.” Wanita itu tersenyum, nampak jelas giginya yang dibalut timah putih.
Malam yang demikian hening. Dara membaringkan tubuhnya di pembaringan. Baru saja ia ingin memejamkan mata. Tiba-tiba bayangan menakutkan itu datang lagi. Saat ia tengah berlari tanpa alas kaki, mencoba meminta pertolongan dengan jeritan lantang, dengan suara paraunya. Dara kembali menangis. Bayangan menakutkan itu selalu datang dan datang lagi. Dara mulai membenci dirinya sendiri, seakan Dara tak memiliki kebanggaan diri lagi, ditambah lagi penyakit Leukimia yang dideritanya. Apalagikah yang bisa kubanggakan dari diriku sendiri. Tuhan! Salahkah aku yang kini selalu menjauh dari semua teman-temanku dan mencoba membatasi diri dalam bergaul. Aku merasa diri ini tak ada guna lagi. Tuhan! Tenangkanlah jiwaku, beri aku kesabaran dan keikhlasan. Hanya pada’MU Tuhan.
Lihatlah
Diposting oleh
Unknown
di
Selasa, Juni 12, 2012
Lihatlah...
disudut-sudut mendayu lagu lirih
menyatu kardus, plastik dan sampah
merayap menerjang menentang
sesuappun jadilah,
pengganjal perut demi hidup
hari ini
hari ini
Lihatlah...
Tubuh-tubuh kering
Penyakit dekat dengan tulangnya
Mereka berkumpul teduhkan iman
bocah-bocah berlaga di jalan-jalan
menadahkan tangan merakit harapan
Lihatlah...
Negeri ini ibarat rongga
ketika dinding goa menjepit kian pepat
dan jerit pedih bergoyang di setiap nafas
apakah hati tak bisa lagi menyimak
ingin kuajak engkau berjalan
menentang angin di buana ini
Lihatlah...
Di tiap kerdip mata ada aduh
Di tiap suap nasi ada lapar
Pagipun bercerita tentang bocah-bocah
Yang bertelanjang kaki ke sekolah
“Jangan angkuh dihadapan orang yang rendah hati
dan jangan merendah dihadapan orang yang angkuh”.
“Jangan angkuh dihadapan orang yang rendah hati
dan jangan merendah dihadapan orang yang angkuh”.
Kupu-Kupu Malam
Diposting oleh
Unknown
di
Selasa, Juni 12, 2012
Kala kau anggap tangis hanya hadirkan basah
ruangmu nan sarat oleh kepalsuan melanda
kian berat saat jiwa sibuk menimbang jalan
Kehidupan tak pernah ramah dengan kita
Kita hanya biduk kecil...
terhempas gelombang di lautan lepas
begitu kecil...
sekecil langkah kita.
Kauhampiri jalan itu jua
seakan tiada celah lain terbuka mesra
meski hati berbalut gelisah
pasrah kau terjang
merejam demi hidup terbentang panjang
Gincu memerah, pupur menebal,
tubuh menggeliat, paha tersingkap
mata berkilat-kilat menggoda
diiringi senyuman penawar resah
dosa menggelinjang di tarian hidup
Angin itu membawamu melangkah salah
sebab,
masih ada satu pintu terkuak
pintu yang dihiasi keindahan doa-doa kita
Bagaimana garis hidup akan berteriak menang
kala kau terjang arah yang salah
hatimu menjerit pasrah
meski senyum dan tawa kau lepaskan
Mengapa setiap mata menudingmu tajam
kau biang keladi penyakit
kau sorotan khalayak ramai
kau jua tudingan rongsok penyebab tipisnya iman
adilkah jika hanya kau....kau....dan kau...
Duhai kupu-kupu malam!!!
saat bimbang menggelepar di hatimu
saat dunia sinis padamu
saat rupiah tak ramah menjamahmu
kaupun berlalu berlawanan arah
Bila langit menangis pagi buta
kaupun berada di detak detik yang segera berlalu
tanpa jawaban
tanpa jalan keluar
Mendekatlah...
ada satu pintu yang indah
terbuka lebar menyambut mesra
tanpa lapis-lapis kemunafikan
hanya dengan akar doa
untuk kau...aku...dan kami semua
karena Tuhan mengasihi kita.
## Malulah Pada Tuhan disetiap tindakan kita ##
## Malulah Pada Tuhan disetiap tindakan kita ##
Bocah berdinding kardus
Diposting oleh
Unknown
di
Selasa, Juni 12, 2012
Bocah kecil, telanjang kaki
Berbekal iman, berselimut kesabaran
Menjajagi keperkasaan bumi
Tegar menjilati koreng angkasa
Dinding kardus istanaku
atap plastik peneduhku
mengemis jadi kewajiban ibaku
Rambut gimbal,
Kumal badan,
Compang-camping atap jiwaku
Aku tetap gagah merayu
demi recehan penawar lapar
Angin nakal berhembus lirih
Aku tak jera pada hujan
Aku tak gentar pada mentari
tetap menari menadah mimpi
Akupun ingin duduk di bangku sekolah
Menimba ilmu menjaring cita-cita
namun hidup menampar aku, kejam
Memaksa menggoyang krecek
Aku lahir dari sejarah
Dalah hitungan tujuh tahun usiaku
yatim piatu adalah gelar kebanggaanku
Barangkali Langit adalah Bundaku
Dan Bumi adalah Ayahku
Kumelenggang di tiap gang
Menggoyang krecek kecintaan
Mendendang tembang
di terminal, toko-toko dan jalan-jalan
Pada Tuhan aku mengadu
Bersama angin aku berjalan
Berapit dinding kardus kuterlelap
Berbekal tekad aku menerjang
Nikmati sejarah hidupku sendiri.
“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”
“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”
Kepergianku
Diposting oleh
Unknown
di
Selasa, Juni 12, 2012
Pulangnya mentari tak dapat meredakan gemuruh kalbu
karena gemuruh ini adalah yang awal dariku
awal menguningnya padi
berseminya akasia di sepanjang jalan
antara Bandung hingga Denpasar
Lambaian nyiur di pematang Kali Brantas
adalah lambaian pisah dalam harap untuk jumpa
untuk meniti jembatan kasih
merajut damai yang kelu
dalam badai keresahan
Ketegaran Tangkuban Perahu
tak ubahnya ketegaran kalbu
siap arungi prahara
tegarnya Bukit Padas
tingginya Kawah Welirang
Kapal telah merapat ke dermaga
Aku harus pergi
Langganan:
Postingan (Atom)








