Nyi Mas Rd Ade Titin Saskia Darmawan, terlahir di Bandung 31 Oktober 1981.Yang kesehariannya disibukkan sebagai Konsultan Akutansi ini tak luput menulis di sela-sela waktu luangnya, menulis cerpen, puisi yang sudah menjadi kebiasaann sejak bersekolah dulu. Selain sebagai Konsultan Akutansi di Biro Konsultan dan Interior Designt Nusa C di Denpasar Bali. Pernah bekerja di Jepang sebagai Konsultan Akutansi di Kawamoto Kenshushei. Pernah menjadi penyiar di beberapa radio swasta di Bali, menjadi MC dan nyanyi di beberapa acara yang masih digelutinya hingga kini.

Tahun 2006 Bersama Bapak Puspayoga, Tata Rama Production dan Koran Bali menggelar Acara Lomba Baca Puisi Piala Wali Kota Denpasar tingkat SD, SMP,SMA dan Umum yang diikuti oleh 900 peserta.

Kehidupan pewartaan yang pernah dijalaninya:
Mengasuh Sastra dan Budaya di Koran Bali, Koran Patroli Pos, Koran Patroli Nusantara, Majalah Amertha, Majalah Stamina, Redaktur Majalah Ekspresi, Majalah Mesra Jogjakarta, Majalah Suluh, Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia. Bali Pos.
Berkesenian masih digelutinya hingga kini dari bernyanyi hingga berteater,

Buku Yang Sudah Terbit :
- Antologi Puisi Bersama 50 Penyair Nusantara "Negeri Sembian Matahari"
- Antologi Puisi Sendiri "Aksara Jiwa"
- Antologi Puisi Sastrawan Indonesia 2014
- Antologi Puisi Bersama 10 Penyair Bali "Irama Tanah Air"

Buku Yang Akan Diterbitkan :
- Antologi Puisi Bersama 20 Penyair Nusantara "Karena Itu Engkau Kusebut Ibu"
- Antologi Bersama 15 Penyair Nusantara "Dialog Ruang" Antologi Puisi Bersama Fanny Jonathan Poyks "Dua Sisi"
- Antologi Puisi Bersama David Darmawan Siswandi "Rendezvous"
- Antologi Puisi Sendir "Aku Dan Kehadiranmu"
- Antologi Puisi Sendiri "Bianglala Kehidupan"



Email : adetitinsaskia@hotmail.com

AKU TEMUKAN OASIS

 (puisi kiriman dari kekasih jiwaku: Dave Darmawan)











Aku temukan oasis
Dekat danau kelembaban
Empat matahari tengadahkan hari
Sesaat terdiam dalam alunan nada
Arah jarum jam pun terbalik
Sebab datangnya membuai
Kini tekad telah terbentuk
Indah itu bangun tidurku
Aku ingin akhiri perjalanan denganmu

JAWABAN

 








Mentari belum terbalik memutarnya 
Hirup udara yang melimpah 
Rasakan ada kerinduan yg menyiksa 
Sambut kabar baik setiap pagi 
itulah jawaban Tuhan!
Akupun jawaban???

(kiriman dari kekasih jiwaku: Dave Darmawan)

IRAMA HATI










Dialah ombak yang mulai menepi 
Alunkan elegi romantika dua jiwa
Variasi nuansa dua dimensi
Isyaratkan semburat cahaya pesona
Dalam batas khatulistiwa

Dialah aroma romansha insani
Alirkan semburat cahaya menerpa 
Rahimkan asa penuh mimpi
Mewarnai romansha damai romantika
Akulah tepian pantai dasar ombak yang meniti
Wujudkan impian dalam balut'Nya
Aroma tebarkan ribuan mimpi
Namun hati tiada sepi dalam rangkulnya

Semburat lentera kasturi bidadari
Idaman sang gatot kaca memadu rasa
Seirama degap degup denting hati
Wadah cinta temukan warna
Akadkan nurani menuju surgawi 
Nyanyikan melodi sematkan asmara
Dalam paduan kisah kasih ini
Inilah arti hadirmu dalam singgasana jiwa


JANGAN MENANGIS












(kiriman dari kekasih jiwaku: David Darmawan Siswandi)

Jangan Menangis....
Api yang dulu berkobar 
Belum juga padam nyalanya
Hanya sekarang hanguskan hutan
Runtuhkan rumah ibadah
Kobarkan api kebencian

Jangan menangis...
Juangmu dulu hanya terbaca
Pada buku sejarah sekolah
Untuk terapkan sebatas kurikulum
Tanpa tanya...tanpa jawab
Lalu terusir pada kertas bungkus

Jangan menangis...
Hutan yang kau perjuangkan
Sekarang tinggal serpihan abu
hanya tersisa pada sekotak tusuk gigi
Dan sekaratnya tanah air
Busukan hati cemarkan diri

Jangan menangis...
ketika tak ada lagi kagumimu
Sebab sosokmu tergantikan di layar kaca
Bicarakan mu pada sebuah wacana
Lalu debatkan perananmu
Tuk tentukan bintang tersemat di dadamu

Jangan Menangis...
Karena kami tak ikut mereka
Sebab peranmu terlalu bagus
Untuk sekedar pajangan pada dinding kamar
Biarkan kami hidup pada zaman ini
Jangan paksa kami bawa senjata

Jangan menangis...
kau tetap ada dalamku

✾◕‿◕✾ ✾◕‿◕✾✾◕‿◕✾✾◕‿◕✾

Tuhan Ijinkan Kami




Bagaimana aku boleh mewujudkan cintaku padamu?
Ijinkan aku menghitung caranya...
Aku mencintaimu sedalam, selebar dan setinggi-tingginya.
Jiwaku bisa meraih ketika perasaanku tak kuasa
demi akhir Keberadaan dan kesempurnaan karunia.
Aku mencintaimu setiap hari
ketika ada kebutuhan yang tak terucapkan,
dalam taburan cahaya matahari atau temaramnya nyala lilin.
Aku mencintaimu dengan bebasseperti lelaki yang memperjuangkan hak.
Aku mencintaimu dengan murni,
semurni lagu-lagu pujian.
Senyum, air mata dan sepanjang hayatkuJika Tuhan menghendaki,
aku akan semakin mencintaimu bahkan setelah aku mati.
Cinta telah wujud terlaksana
Mestikah ada cara perhitungannya
Nantikan saat penyatuannya
Dalam dambaan kasih sayang kita
Mengalir di setiap perjalanan darah
Dalam denyutan setiap nafas nadi
Berdetak bersama degupan jantung
Mekar menghiasi lubuk jiwa raga
Kasih belaianmu seringkali terasa
Memenuhi ruangan dermaga dada
Tanpa batasan tembuk bentengnya
Begitu ketara jambak keistimewaannya
Dalam kesenduan mengalir airmataku
Perhatianmu aku menjadi amat terharu
Kematian semu deria taman cintaku dulu
Kembali hidup menyanyikan lagu merdu
Kepahitan perjalanan masa nan silam
Meninggalkan luka dulunya terpendam
Mengikiskan jalur-jalur setiap dendam
Belaian cinta kasihmu semuanya terpadam
Bersamamu aku rasa gembira
Bersamamu aku bisa ketawa
Bersamamu aku nikmati bahagia
Aku kau jadikan insan sempurna
Ke timur barat selatan mahupun utara
Bayanganmu menemani sepanjang masa
Dalam jaga dalam kepanjangan lena
Seiring melangkah tanpa perlu dipinta
Namun kita masih tetap manusia biasa
Terperangkap kerinduan yang memenjara
Akan terhuraikah di perbatasan sela masa
Tika berlinangan sendu telaga airmata
Tuhan.........
Izinkan cinta kami utuh abadi selamanya
Kasih sayang kami mekar terus berbunga
Dalam mahligai bahagia impian terlaksana
Sehingga ke akhir masa tetap kekal bersama
Dalam kesucian kasih sayang asmara cinta
✿♥‿♥✿

Aku dan Kau













(kiriman dari kekasih jiwaku: David Darmawan Siswandi)

 Aku samudera yang dihempas badai gelora
biarkan kehancuran datang melanda
terasa diri sendiri menjadi binasa
ranjau kehidupan kutempuhi jua
Biar onak berduri kian menerpa
Menusuk kalbu bersemaikan lara
Haruskah daku membawamu turut serta
Bersama menempuhi segalanya
Demi keabadian sebuah cinta
Pada tulus suci kasih nan setia
Walau ribuan halangan menimpa
mempelaiku akan arungi bersama

………(●̮̮̃•̃)..(●̮̮̃•̃)
……… /█\ ♥/█\
==============

PAHLAWAN


(kiriman dari kekasih jiwaku: David Darmawan Siswandi)

Sebab kusebut kau pahlawan
Takkan ku biarkan wajahmu
Sekedar terpajang ruang kelas
Lalu anak-anak elukan gambar Su Ju
Dan kau terus disitu terdiam
tetes hujan pada ruang bocorgantikan tangismu....

Sebab kusebut kau pahlawan
Takkan kubiarkan namamu disebut
Pada dagangan kampanye picisan
Mengcopy paste semua ucapanmu
Cantumkan dirimu pada proposa
Mengatasnamakan rakyat tertindas
Yang sejak lama kau bela
 
 Sebab kusebut kah pahlawan
Karena teriakan cemooh
Di ruang-ruang parlemen
yang penuh upaya penuhi saku
Agar langgeng dinasti kekerabatan
Walau harus berhadapan raksasa hijau

Sebab kusebut kau pahlawan
Tangan terkepal lawan begundal
Yang atasnamakan wakil Tuhan

Sebar ancaman berbaju putih kumal
Padahal tak ada yang mereka kenal
Bahkan sebait ayatpun tak mereka hapal

Aku ingin kau anggap sahabatmu
Bukan karena aku ingin jadi pahlawan
Tapi tangisku lihat sekelilingku
yang agungkan kata 'Ini milikku'
Ketepurukanku cemari udara
Tinggal dalamku pecut diriku
Agar nyali tak pergi dariku

Kau kusebut pahlawan
karena memang begitu..
Halo... Bung Tomo
Halo...Diponegoro
Halo...Sudirman
Halo ...Kartini
Halo...Indonesia

……. ‘*• ♫♫♫•*’
….. ‘ *, • ‘♫ ‘ • ,* ‘

TIGA BENDERA

(kiriman dari kekasih jiwaku: David Darmawan Siswandi)

Kusematkan di dadanya sebuah medali
Agar tak terulang perih yang terpatri
darah genapkan aroma kemerdekaan negeri
Pada keabadian sebuah bangsa sendiri
Tak mengenal seberapa beda kulit terpatri
Yang pasti ada dalam satu negeri
Kusampaikan padanya sebuah serapah
Lihat begundal yang sedang menjarah
Utak atik seberapa banyak darah tercurah
Langkah diri tak lagi punya arah
Sebab sudah bebal jiwa yang parah
Dasi dan gincu balikan arah
Kutautkan padanya berjuta harapan
Halangi diri dipenuhi kudapan
Generasi ini penuh dengan pahlawan
Asa bukan sebuah mimpi yang tersimpan
Gemilang sebuah negeri jadi yang terdepan
Asa demi asa bukan sebuah pepesan
Kusaksikan sebuah negeri dengan tiga bendera
Kemerdekaan dibayar darah
Halaman kertas putih yang siap ditulis
Hitam keserakahan yang menghadang
Kutemukan pahlawan pada setiap warnanya
mereka bilang ...Indonesia tanah airku

……. ‘*• ♫♫♫•*’
….. ‘ *, • ‘♫ ‘ • ,* ‘

Kepada Istriku

(kiriman dari kekasih jiwaku: David Darmawan Siswandi)
Untuk Istriku yang ku rindu!
Angin telah sapukan kelam
Noktah hitam tak lagi punya berahi
Nuansa alam hadirkan senyum kembali
Aku tengadah memujamu
Dalam kerinduan menggigit hari
Aku terhenyak dalam dakapan masa
Ruang hati kembali membuka
Malam tak lagi sunyi tanpa tawa
Angan melanutkan igauan tengah malam
Waktu tak malu-malu berikan kesempatan
Aku dan kau adalah malaikat bersayap satu
Namun kau kan ku peluk agar kita bisa terbang

………(●̮̮̃•̃)..(●̮̮̃•̃)
……… /█\ ♥/█\
==============

Itu Aku

(kiriman dari kekasih jiwaku: David Darmawan Siswandi)

Yang biarkan malam penuh senyap itu aku
Yang penuh dengan tangisan rindu
Menyirami sekeping hati penuh sendu
Pada sekilas wajah yang kian membeku
Menanti hari kapankah tibanya waktu
Nakhodaku tinggal tak berperahu
Menjejaki arus samudera lautan biru
Tatkala mengalir airnya menjadi kelam dan kelabu.
Yang mencintaimu itu aku!

Tentangmu



kiriman dari kekasih jiwaku: David Darmawan Siswandi
Telah kutempatkan anganmu
Di sisi terakhir rinduku
Tak terasa telah ku lewati masa
Yang menyisakan rasa sendu
Tentang kita
Tentang cinta
Angin, bawakan salamku
Bersama rindu
Bersama romansa
hujan, redupkan amarahku
Ketika aku merasa kehilangan
Telah ku tambatkan cintamu
Di sisi terakhir batasku
Tak terasa telah ku lampaui waktu
Yang menghitung langkahku
Tentang kita
Tentang cinta

♥‿♥✿♥‿♥✿♥‿♥

RINDU

(kiriman dari kekasih jiwaku: David Darmawan Siswandi)

Matahari telah berhenti bersinar
Dan alampun tak lagi pancarkan keriangannya
Biarkan bulan itu mencoba membiaskan
Sisa-sisa hangatnya yang terakhir
Angin telah lelah bertiup
Dan riak ombak tak lagi membisikkan bunyinya
biarkan hujan itu bernyanyi meneriakkan
lagu-lagu tentangmu penuh cinta
Dimanakah senyummu?
Yang dulu pernah menyapa hariku
Dimanakah dirimu?
Yang memberikan waktu penuh riang
Biarkan rasa itu hadir
Dengan semburatan mimpi-mimpi
yang tak pernah berakhir

✿♥‿♥✿♥‿♥✿♥‿♥✿

LEMBARAN RINDUKU BUNDA

IBU merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir-bibir manusia,
dan Ibu merupakan sebutan terindah.
Kata yang semerbak cinta dan impian,
manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.
Ibu adalah segalanya,
dan Ibu adalah penegas kita dikala lara,
impian kita dalam rengsa,
rujukan kita di kala nista.
Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi.
Siapapun yang kehilangan ibunya,
ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa merestui dan memberkatinya.
Hari ini 21 April, bersamaan dengan Hari Kartini... aku teringat sosok ayu yang sekian lama berjalan bersamaku, memberi segenap jiwanya padaku, memberi keindahan hidup, memberi pelajaran tentang pahit manisnya kehidupan ini... walau kini berjauhan, berjarak laut dan samudra...
Mamihku tercinta... satu persembahan buatmu dari nanda yang merindukanmu, yang mencintaimu, darah ini selalu mengalir darahmu, di tiap nafas ini ada rindu untukmu.

LEMBARAN RINDUKU BUNDA


Nafasmu berdesir lembut
tiada lelah terpaut memagut
tiada sesal dalam perjalanan hari
Langkah itu terus berjalan untukku
bidadari kecilmu…

Impimu berlari mengejar bintang
kabut tersapu cahaya gemilang
mengharap aku menjadi mutiara kebanggaan
di peran yang kau mainkan dalam setiap sentuhan

Diiringi titian lelah kau rangkai mawar terindah
Mengurai senyum ditiap liku perjalanan resah
Mendera doa disetiap detak detik nafasku
Bunda.. kau berlian dihatiku

Relung hatimu nan indah rupa
Aku tak sanggup menyentuh dalamnya
Air matamu menguntai sebuah harap
Di setiap sholat malam dalam senyap

Bunda....
jarak ini hanya peringkas rindu
memburu hati merangkai seluruh haru
Aku hanya ingin menjadi sebuah impian untukmu
Membopong semua mimpimu dalam pundakku

Bunda...
Jangan benci aku
bukalah tabir itu
ijinkan aku merindu
ijinkan aku menemui pucuk pertemuan dalam dahaga rindu

Rangkaian aksara kemarin biarkan terbenam
jika itu hanyalah aksara luka yang kusemayam
bilakah kau singkap tirai yang kejam memanjang
rindu aku pada balut kasihmu yang terajang
di tiap urat nafas membentang

## dari jauh kudatang sampaikan salam rindu buat mamihku tercinta di kota Kembang.... Selamat Ulang Tahun, senantiasa selalu sehat dan mudah dalam langkah ' I LOVE YOU MOM' ##

❀◕‿◕❀❁◕‿◕❁✾◕‿◕✾❀◕‿◕❀

Jalinan Terlarang

        
Hari ini baru seminggu aku mengajar di sekolah baruku ini dan menjadi wali kelas Dua IPA Satu. Kelas yang kukenal siswanya paling gaduh. Aku duduk di ruang guru, kuamati buku absensi yang ada di atas mejaku, mataku tertumpu pada nomor induk 15, sebuah nama yang indah tertera di sana, Tarina magdalena, siapakah pemilik nama itu? Karena seminggu ini ia tak pernah ada di kelas, kabarnya sih terpilih mewakili sekolah ini sebagai siswa teladan Tingkat Kabupaten.
“Tarin, Selamat ya! Sebuah suara milik Ibu Ani Guru Mata Pelajaran Kimia membuyarkan lamunanku. Ibu Ani memeluk gadis yang disapanya sembari menciumi kedua belah pipinya.
“Terimakasih bu, berkat doa para guru dan semua teman, saya meraih peringkat pertama siswa telada se-Kabupaten ini.” Gadis yang dipanggil Tarin itu tersenyum, ah! senyum yang manis, aku terpikat oleh senyum dan gaya bicaranya. “Tarin, ini Pak Pramudya, wali kelasmu yang baru.” Bu Ani mengenalkannya padaku. Aku berdiri dari kursiku, gadis itu mendekatiku dan mengulurkan tangannya, kusambut tangan lembut itu, ia tersenyum kecil, perlahan melepaskan tangannya dari genggamanku. “Maaf, saya mau ke ruang bapak kepala sekolah.” Pamitnya secara halus, kemudian meninggalkan aku dan Bu Ani.

Aku termangu di kamarku, kutolak ajakan ayah dan ibu serta adikku untuk makan malam bersama, rasanya aku enggan untuk beranjak dari kamarku, malam ini aku benar-benar ingin sendiri dan membayangkan wajah cantik milik Tarina magdalena, kubaringkan tubuhku di pembaringan, bayangan Tarina terus mengusik dan seakan-akan enggan pergi dari pikiranku, ah, aku jatuh cinta rupanya, guru macam apa aku ini mencintai muridku sendiri? Tapi, sungguh, aku tak bisa membendung perasaanku lagi, aku terjerat pada pandang pertama, wow, melankolisnya aku ini, aku ingin malam ini segera berganti pagi agar aku bisa menikmati senyum Tarina. Cinta! sungguh kau perkasa dapat menjeratku kembali. Cinta! sungguh kau perkasa pernah melumpuhkan hatiku.

Tadinya aku amat kesal karena harus menjadi wali kelas itu, karena siswanya terkenal nakal dan biang onar. Namun kehadiran Tarina memberi semangat baru padaku. Tapi karena posisiku sebagai guru, aku akan coba untuk memendam perasaanku. Di usiaku yang empat puluh tahun ini, aku baru memiliki perasaan seperti ini lagi setelah aku kecewa akan sikap Indri, wanita yang pernah mengisi hatiku, dan lima tahun yang lalu ia mengkhianatiku, menikah dengan Rangga, sahabatku sendiri, kepedihan itu sangat dalam hingga akhirnya aku membujang hingga kini.

Pagi ini kumasuki ruang dua IPA satu, nampak riuh, persis pasar, ada yang asik dengan catur, kwartet, dan ada yang berkerumun sambil ngerumpi. “Pagi pak!” mereka menyambutku sambil riuh mencari tempat duduk masing-masing, “Seperti janji bapak dua hari yang lalu, sekarang kita ulangan.” Seruku sambil mencatat soal-soal aljabar di papan tulis. Kudengar dengus kesal dari bibir-bibir mereka, “Tepat janji banget sih pak,” aku berpura-pura tak mendengar suara murid wanita terbadung di kelas ini, “Bagi yang membawa handphone mohon dinonaktifkan!” Perintahku seusai aku menulis soal. “Iya karena pesawat akan segera lepas landas.” Kembali suara Nadia, siswi badung di kelas itu menghantarkan tawa teman-temannya. Ya Tuhan, kelas macam apa yang kudapat ini, aku hanya melotot dan menatap tajam pada Nadia, gadis itupun menunduk.

Dengan tatapan mataku, kuawasi mereka dan sesekali aku berjalan mendekati mereka satu persatu. Ada yang mengetuk-ngetuk kepalanya dengan balpoin, ada yang menggigit balpoin, ada yang terus mengamati soal-soal aljabar di papan tulis, ada yang celingak-celinguk berusaha mencari jawaban dari temannya. Aku teringat pada Siska adikku satu-satunya, yang masih duduk di kelas satu SMA, ia selalu menggigit balpoin jika lagi berfikir. Kulihat dikursi barisan depan gadis yang akhir-akhir ini mengusik lamunanku, Tarina... yah, gadis itu asik menjawab soal-soal, beberapa saat kemudian ia berdiri menghampiri mejaku, ia memberi lembar jawabannya padaku. “Kamu sudah selesai!” Tanyaku bernada tegas. Gadis itu mengangguk lalu melangkah ke luar kelas, “Hey! Kenapa tidak menjawab?” Nadaku agak keras. “Saya sudah mengangguk, pak.” Jawabnya santai sembari melangkah keluar kelas. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku mendengar jawabannya, kuamati hasil ulangannya. Aku kagum pada kepandaiannya, menjawab dua puluh soal aljabar yang kuberikan hanya memerlukan waktu lima belas menit tanpa ada jawaban yang salah. Sedangkan teman-temannya masih bermuka kusut menghadapi soal-soal. Sementara itu di luar kelas di bawah Pohon Loa, Tarina duduk sambil membuka sms dari teman-temannya yang meminta jawaban, ia tersenyum membaca pesan dari teman-temannya itu. Ia pun memberi beberapa jawaban kepada mereka, Pak Pramudya yang asik melahap buku filosofinya tak menduga kalau siswanya tengah asik berpesta sms, kecolongan deh.

Aku berusaha menutup-nutupi perasaanku pada Tarina, jalan yang kuambil adalah berlagak galak padanya. Di kelas sering ia kubentak karena ia asik berbicara dengan Tiwit teman sebangkunya, kadang dengan Guntur teman yang duduk di belakangnya. “Kamu boleh keluar andai tidak suka pelajaran saya!” Kataku Saat itu, ia hanya menunduk menahan tangis, aku sebenarnya tak tega melihatnya bersedih tapi semua ini kulakukan hanya untuk menutupi perasaanku. “Jangan mentang-mentang kamu pintar, kamu tidak memperhatikan penjelasan saya.” Terkadang kalimat kasar itu yang keluar dari mulutku. Sebenarnya aku tak suka ia akrab dengan Guntur, aku sering melihatnya berduaan dengan Guntur, kadang di kantin, di perpustakaan, aku benar-benar cemburu. Apalagi terkadang kulihat Tarina dibonceng Guntur dengan motornya saat pulang sekolah. Aku hanya bisa menahan kecemburuanku. Mereka sebaya, pantaslah andai mereka berpacaran. Sedangkan aku hanya perjaka lapuk yang tak pantas mencintainya, apalagi ia muridku sendiri. Namun rasa cinta ini datang dengan sendirinya padaku tanpa kuduga dan sulit untuk mengikisnya, ia datang bagai angin sejuk, menyusup hatiku, membelai lamunanu, mengangkasa di awang-awang lamunanku. Ingin rasanya kuungkapkan perasaan ini padanya agar tak menjadi beban berat dihatiku. Akankah aku mampu melakukannya.

Tibalah kenaikan kelas dan sekolah mengadakan acara pendakian. Dengan mataku, aku terus mencari-cari Tarina, namun gadis itu tak nampak juga, akupun berjalan menyusuri jalan setapak di belakang siswa-siswiku. Namun hatiku amat kecewa kala kulihat di depan sana Tarina berjalan bergandengan tangan dengan Guntur. Hatiku berkecamuk hebat, ingin rasanya kudekati mereka dan kutepiskan pegangan tangan mereka. Lebay juga rasanya. Beberapa lama pegangan tangan itupun mulai meregang dan gadis itu duduk di sebuah akar pohon besar. “Duduk deh Tur, istirahat dulu, aku payah banget.” Suara Tarina lemah. “Okey deh, aku duluan ya.” ujar Guntur sambil berlalu. Kala kulewati Tarina, kuhentikan langkahku, kuhampiri dia, aku kasihan melihatnya begitu lelah. “Tarina, ayo bapak bantu,” kuulurkan tanganku, ia tersenyum menyambut tanganku. Akupun mengisyaratkan agar ia melepaskan ranselnya dan memindahkannya ke bahuku. Ia kembali tersenyum, ah aku semakin tak berdaya. Gadis yang manis, lugu dan cerdas. Aku amat menyayanginya. “Mengapa Guntur meninggalkanmu, pacar yang baik akan menjaga kekasihnya dan bukan meninggalkannya.” Kataku sembari kami menyusuri jalan setapak yang semakin lama semakin mendaki dan terjal. “Dia sepupu saya dan kami tidak pacaran.” Kata-kata Tarina melegakanku, akhirnya kuberanikan diri menggenggam tangannya, mengecup jari jemarinya dan membisikkan sesuati di telinganya. “Salahkah aku andai mencintaimu, Tarin.” Wajahnya mulai memerah dan ia tersenyum kemudian menggeleng... ah gelengan itu amat berarti bagiku. Aku bahagia, kupeluk dia dan membenamkan kepalanya di dadaku. Kemudian kubisikkan sekali lagi di telinganya, “Aku teramat menyayangi dan mencintaimu Tarin,” Gadis itu semakin erat mendekapku.

“Bang! Baaaaaaang! Abaaaaaaaaaaaaaaaaaaang! hayo bangun! Udah siang nih, telat tuh ngajarnya.” Teriakan Siska membuyarkan mimpiku. Kulepas dekapan gulingku, ah! selalu saja kemesraan dan keberanian itu hanya hadir di mimpiku. Aku benar-benar tak pantas dan tak berani mengungkapkannya. Semua hanya akan ada dalam khayalanku entah sampai kapan batas pengembaraan hati ini, hingga saatnya aku mampu atau aku benar-benar lelah. Cinta selalu saja melumpuhkan perasaanku, seperkasa itukah Cinta.






Aksara Jiwa

Berjalan kisah ini jua
sudah cukup panjang kukira
kuingin berakhir bila mentari terbit di ufuk timur
Tawa dan tangis berjalan jua
dalam kehidupan kisah ini
menari meramu merambah jejak

?(●̮̮̃•̃)? ?(-̮̮̃-̃)? ?(͡๏̯͡๏)?

Kutinggalkan Gelap

(Puisi Persembahan Buatmu Kekasihku/Nyawa Hidupku)

Saat-saat hangatnya kujur tubuh
Terangi wajah lusuh
Daun-daun berkibar panjang
Burung pagi berkicau riang
Bangunkan terangi wajah lusuh
Hilangkan keheningan hati
Membidik kesetiaan daun-daun
Yang berkeringat
Dari jendela rumah gundahku
Kujemput surya perawan
Tercium bunga, bukan Cuma
Harumkan jendela batinku
Bayang-bayang mengintari
Sanubariku
Tinggalkan sisa cemas
Bahkan hilangkan hati
Yang terkapar
Tumbuh akar dalam benakku
Tersimpan kesuburan
Taman hati
Pepohonan terbangun
Akankah indahkan hidup
Yang tersisa datangnya
Embun pagi

❁◕‿◕❁
Hati aku ada satu...dan yang satu itulah yang telah ku berikan kepadamu