 |
|
Hari ini baru seminggu aku mengajar di sekolah baruku ini dan menjadi wali kelas Dua IPA Satu. Kelas yang kukenal siswanya paling gaduh. Aku duduk di ruang guru, kuamati buku absensi yang ada di atas mejaku, mataku tertumpu pada nomor induk 15, sebuah nama yang indah tertera di sana, Tarina magdalena, siapakah pemilik nama itu? Karena seminggu ini ia tak pernah ada di kelas, kabarnya sih terpilih mewakili sekolah ini sebagai siswa teladan Tingkat Kabupaten.
“Tarin, Selamat ya! Sebuah suara milik Ibu Ani Guru Mata Pelajaran Kimia membuyarkan lamunanku. Ibu Ani memeluk gadis yang disapanya sembari menciumi kedua belah pipinya.
“Terimakasih bu, berkat doa para guru dan semua teman, saya meraih peringkat pertama siswa telada se-Kabupaten ini.” Gadis yang dipanggil Tarin itu tersenyum, ah! senyum yang manis, aku terpikat oleh senyum dan gaya bicaranya. “Tarin, ini Pak Pramudya, wali kelasmu yang baru.” Bu Ani mengenalkannya padaku. Aku berdiri dari kursiku, gadis itu mendekatiku dan mengulurkan tangannya, kusambut tangan lembut itu, ia tersenyum kecil, perlahan melepaskan tangannya dari genggamanku. “Maaf, saya mau ke ruang bapak kepala sekolah.” Pamitnya secara halus, kemudian meninggalkan aku dan Bu Ani.
Aku termangu di kamarku, kutolak ajakan ayah dan ibu serta adikku untuk makan malam bersama, rasanya aku enggan untuk beranjak dari kamarku, malam ini aku benar-benar ingin sendiri dan membayangkan wajah cantik milik Tarina magdalena, kubaringkan tubuhku di pembaringan, bayangan Tarina terus mengusik dan seakan-akan enggan pergi dari pikiranku, ah, aku jatuh cinta rupanya, guru macam apa aku ini mencintai muridku sendiri? Tapi, sungguh, aku tak bisa membendung perasaanku lagi, aku terjerat pada pandang pertama, wow, melankolisnya aku ini, aku ingin malam ini segera berganti pagi agar aku bisa menikmati senyum Tarina. Cinta! sungguh kau perkasa dapat menjeratku kembali. Cinta! sungguh kau perkasa pernah melumpuhkan hatiku.
Tadinya aku amat kesal karena harus menjadi wali kelas itu, karena siswanya terkenal nakal dan biang onar. Namun kehadiran Tarina memberi semangat baru padaku. Tapi karena posisiku sebagai guru, aku akan coba untuk memendam perasaanku. Di usiaku yang empat puluh tahun ini, aku baru memiliki perasaan seperti ini lagi setelah aku kecewa akan sikap Indri, wanita yang pernah mengisi hatiku, dan lima tahun yang lalu ia mengkhianatiku, menikah dengan Rangga, sahabatku sendiri, kepedihan itu sangat dalam hingga akhirnya aku membujang hingga kini.
Pagi ini kumasuki ruang dua IPA satu, nampak riuh, persis pasar, ada yang asik dengan catur, kwartet, dan ada yang berkerumun sambil ngerumpi. “Pagi pak!” mereka menyambutku sambil riuh mencari tempat duduk masing-masing, “Seperti janji bapak dua hari yang lalu, sekarang kita ulangan.” Seruku sambil mencatat soal-soal aljabar di papan tulis. Kudengar dengus kesal dari bibir-bibir mereka, “Tepat janji banget sih pak,” aku berpura-pura tak mendengar suara murid wanita terbadung di kelas ini, “Bagi yang membawa handphone mohon dinonaktifkan!” Perintahku seusai aku menulis soal. “Iya karena pesawat akan segera lepas landas.” Kembali suara Nadia, siswi badung di kelas itu menghantarkan tawa teman-temannya. Ya Tuhan, kelas macam apa yang kudapat ini, aku hanya melotot dan menatap tajam pada Nadia, gadis itupun menunduk.
Dengan tatapan mataku, kuawasi mereka dan sesekali aku berjalan mendekati mereka satu persatu. Ada yang mengetuk-ngetuk kepalanya dengan balpoin, ada yang menggigit balpoin, ada yang terus mengamati soal-soal aljabar di papan tulis, ada yang celingak-celinguk berusaha mencari jawaban dari temannya. Aku teringat pada Siska adikku satu-satunya, yang masih duduk di kelas satu SMA, ia selalu menggigit balpoin jika lagi berfikir. Kulihat dikursi barisan depan gadis yang akhir-akhir ini mengusik lamunanku, Tarina... yah, gadis itu asik menjawab soal-soal, beberapa saat kemudian ia berdiri menghampiri mejaku, ia memberi lembar jawabannya padaku. “Kamu sudah selesai!” Tanyaku bernada tegas. Gadis itu mengangguk lalu melangkah ke luar kelas, “Hey! Kenapa tidak menjawab?” Nadaku agak keras. “Saya sudah mengangguk, pak.” Jawabnya santai sembari melangkah keluar kelas. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku mendengar jawabannya, kuamati hasil ulangannya. Aku kagum pada kepandaiannya, menjawab dua puluh soal aljabar yang kuberikan hanya memerlukan waktu lima belas menit tanpa ada jawaban yang salah. Sedangkan teman-temannya masih bermuka kusut menghadapi soal-soal. Sementara itu di luar kelas di bawah Pohon Loa, Tarina duduk sambil membuka sms dari teman-temannya yang meminta jawaban, ia tersenyum membaca pesan dari teman-temannya itu. Ia pun memberi beberapa jawaban kepada mereka, Pak Pramudya yang asik melahap buku filosofinya tak menduga kalau siswanya tengah asik berpesta sms, kecolongan deh.
Aku berusaha menutup-nutupi perasaanku pada Tarina, jalan yang kuambil adalah berlagak galak padanya. Di kelas sering ia kubentak karena ia asik berbicara dengan Tiwit teman sebangkunya, kadang dengan Guntur teman yang duduk di belakangnya. “Kamu boleh keluar andai tidak suka pelajaran saya!” Kataku Saat itu, ia hanya menunduk menahan tangis, aku sebenarnya tak tega melihatnya bersedih tapi semua ini kulakukan hanya untuk menutupi perasaanku. “Jangan mentang-mentang kamu pintar, kamu tidak memperhatikan penjelasan saya.” Terkadang kalimat kasar itu yang keluar dari mulutku. Sebenarnya aku tak suka ia akrab dengan Guntur, aku sering melihatnya berduaan dengan Guntur, kadang di kantin, di perpustakaan, aku benar-benar cemburu. Apalagi terkadang kulihat Tarina dibonceng Guntur dengan motornya saat pulang sekolah. Aku hanya bisa menahan kecemburuanku. Mereka sebaya, pantaslah andai mereka berpacaran. Sedangkan aku hanya perjaka lapuk yang tak pantas mencintainya, apalagi ia muridku sendiri. Namun rasa cinta ini datang dengan sendirinya padaku tanpa kuduga dan sulit untuk mengikisnya, ia datang bagai angin sejuk, menyusup hatiku, membelai lamunanu, mengangkasa di awang-awang lamunanku. Ingin rasanya kuungkapkan perasaan ini padanya agar tak menjadi beban berat dihatiku. Akankah aku mampu melakukannya.
Tibalah kenaikan kelas dan sekolah mengadakan acara pendakian. Dengan mataku, aku terus mencari-cari Tarina, namun gadis itu tak nampak juga, akupun berjalan menyusuri jalan setapak di belakang siswa-siswiku. Namun hatiku amat kecewa kala kulihat di depan sana Tarina berjalan bergandengan tangan dengan Guntur. Hatiku berkecamuk hebat, ingin rasanya kudekati mereka dan kutepiskan pegangan tangan mereka. Lebay juga rasanya. Beberapa lama pegangan tangan itupun mulai meregang dan gadis itu duduk di sebuah akar pohon besar. “Duduk deh Tur, istirahat dulu, aku payah banget.” Suara Tarina lemah. “Okey deh, aku duluan ya.” ujar Guntur sambil berlalu. Kala kulewati Tarina, kuhentikan langkahku, kuhampiri dia, aku kasihan melihatnya begitu lelah. “Tarina, ayo bapak bantu,” kuulurkan tanganku, ia tersenyum menyambut tanganku. Akupun mengisyaratkan agar ia melepaskan ranselnya dan memindahkannya ke bahuku. Ia kembali tersenyum, ah aku semakin tak berdaya. Gadis yang manis, lugu dan cerdas. Aku amat menyayanginya. “Mengapa Guntur meninggalkanmu, pacar yang baik akan menjaga kekasihnya dan bukan meninggalkannya.” Kataku sembari kami menyusuri jalan setapak yang semakin lama semakin mendaki dan terjal. “Dia sepupu saya dan kami tidak pacaran.” Kata-kata Tarina melegakanku, akhirnya kuberanikan diri menggenggam tangannya, mengecup jari jemarinya dan membisikkan sesuati di telinganya. “Salahkah aku andai mencintaimu, Tarin.” Wajahnya mulai memerah dan ia tersenyum kemudian menggeleng... ah gelengan itu amat berarti bagiku. Aku bahagia, kupeluk dia dan membenamkan kepalanya di dadaku. Kemudian kubisikkan sekali lagi di telinganya, “Aku teramat menyayangi dan mencintaimu Tarin,” Gadis itu semakin erat mendekapku.
“Bang! Baaaaaaang! Abaaaaaaaaaaaaaaaaaaang! hayo bangun! Udah siang nih, telat tuh ngajarnya.” Teriakan Siska membuyarkan mimpiku. Kulepas dekapan gulingku, ah! selalu saja kemesraan dan keberanian itu hanya hadir di mimpiku. Aku benar-benar tak pantas dan tak berani mengungkapkannya. Semua hanya akan ada dalam khayalanku entah sampai kapan batas pengembaraan hati ini, hingga saatnya aku mampu atau aku benar-benar lelah. Cinta selalu saja melumpuhkan perasaanku, seperkasa itukah Cinta.