
Malam semakin larut,
Angin seakan berhenti dari bernafas,
Alam seperti dalam semadi,
Sukmaku rasa tenggelam,
Hati tersayat rindu………
Barangkali separuh mimpi, separuh ilusi
Bayanganmu seakan membekas, tiada yang asing
Dan seakan menampar sejuta goresanku
Malam ini tersenyum tanpa bintang
Hati ini bernyanyi tanpa nada
Tawa tlah menjauh dari bibirku
Aku tau……… tiada anggur semanis madu
Dan kau pun harus tau…..,
Betapa masih kabur masa depanku
Dapatkah ketabahan tetap tegak dan kokoh walau dilanda angin kencang
Dapat kubayangkan betapa indah sinar rembulan jika purnama
Sayang,,,,,,,,,,
aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan
Andai saja pintu dapat kubuka atau lewat jendela sajalah
Ah……..
purnama yang indah kuharap membawaku pada mimpi,
dalam angan bersamamu…………..
kan kutitipkan rindu yang tak akan selalu merintihkan duka di relung nestapa
Ada keraguan yang tercipta untuk meniti…….
Namun akupun masih menatap CERMIN.
Janganlah memberi ibarat bermain layang-layang
Kuharap benang yang tak kan rapuh
Karena anginpun kian menjadi, anganpun runtuh bersama misteri
Kasih sayang yang tulus tak kan berubah oleh datangnya waktu dan musim
Untuk mengetahui atau membuktikannya,
Cinta adalah perantara pertama,
dan hanya dengan cintalah jalan utama menuju hati.
Namun untuk menempati hati dan memilikinya
Terlalu banyak aral yang melintang, asalkan tabah kita pasti mampu lalui
Cinta tidak terlalu banyak menuntut
Sebab cinta yang kita miliki ini amatlah terbatas
dengan kata lain, cinta sangat terbatas meminta milik kekasihnya
Tetapi cinta tak kan pernah terbatas meminta milik dirinya sendiri.
Harapanku,
buatlah suatu pedoman dalam hidup
Bersikaplah seperti kupu-kupu yang mengitari lampu hingga padam.
Karena tu lebih terpuji daripada tikus yang bersembunyi di dalam terowongan yang gelap.
Dan percayalah,
Cinta adalah satu-satunya bunga yang tumbuh tanpa bantuan cuaca
Cintapun datang tanpa mengenal waktu dan keadaan
Saat kau datang untuk mengawaliku
Kau hanya nampak dihatiku
Saat ini imajinasiku sibuk memungut dan mengumpulkan
Bait-bait kalimat yang pernah kau sembur dari bibirmu
Kan kurangkai dan kusimpan dalam lubukku
Aku tak ingin cinta seperti setitik air di daun keladi
Karena pabila dahannya tersentuh lalu bergoyang
Maka airnyapun tertumpah habis dan tak tertinggal lagi.
0 komentar:
Posting Komentar