kau korbankan waktu
dan keluargamu
kau taruhkan nyawamu
maut menghadang didepan
raut wajahmu
tenang,
semangat membara dijiwa perjuangan
taklukkan mereka penghalang negeri
pembunuhan, pembantaian
bunga-bunga api
mengalir I sungai darah negeri
mata air darah itu
tak mampu runtuhkan juangmu
bambu runcing, telanjang kaki
badan dekil, kusam wajah
menghantarkan indonesia
ke kedalaman kemerdekaan
Di diri mu kami bercermin,
di senyum mu kami dapatkan angin
di katamu…tekad menebar menyebar dan berkobar.
Yang Kini….
Koar-koar
yang kau dengungkan
adalah balut atas semua kepura-puraan
kau selimuti kami semua dengan ketidak-tahuan
kau mengira kami dalam kebodohan.
Sekarang….. bukalah matamu, pasang kedua telinga di kiri kanan kepala besarmu
dan… yang terpenting tutuplah mulutmu
tak kan mungkin kami panggil engkau dengan sebutan pahlawan,
dan sadarlah…., sebenarnya engkau sudah kesiangan.
Yang Dulu Kujadikan Cermin……..
jika hilangmu tanpa pusara
jika pusaramu tanpa nama
jika namamu tanpa bunga
penjajah mengatakan engkau durhaka maka engkaulah pahlawan yang sebenarnya
Sungai Semantan berubah merah
bukan sarap hilir ke kuala
bukan rakit mudik ke hulu
arus merahnya menjulang mayat
pahlawan bangsa pahlawan rakyat
tujuh liang dadanya tersayat
Untukmu derita untukmu penjara
bukan bintang tersemat di dada
semangatmu api negara berdaulat
namamu terukir di jantung rakyat.
Bilakah Kemerdekaan Yang Sesungguhnya itu bisa kami rasakan????

0 komentar:
Posting Komentar