Malam itu hujan menghadang langkah
aku menepi berlindung di emperan sebuah toko
mendung hantarkan kegelapan
dingin berangsur-angsur merajamku
kedinginan yang membekukan segenap
perasan yang kupunya
Mataku terdampar pada pemandangan getir
kakek renta tergopoh mengkorek-korek sampah di depan mataku
di sebuah tempat pembuangan sampah.
Hatiku menangis diam-diam
keperkasaan masih melamur dijiwa rentanya
di hidupnya yang telah jauh melarut
masih ada sisa-sisa asa memperjuangkan hidup
perjuangan hidupnya sungguh mulia
demi penyambung hidup
Wajaku meramu merah merona,
Ingin kusimpan saja wajahku di saku safari-safari yang berjejer angkuh
Jangankan untuk bisa setegar dia
menghirup bau sampah tak sedap saja, hidung kusumbat
Keindahan sebuah negeri masih menyimpan pernak pernik kelaparan
Kemolekan pertiwi selalu mengapit jutaan tangan yang setia mengkais rejeki,
di lorong-lorong, di jalan-jalan dan kardus.
Di jalan-jalan,
anak-anak berbaju rombeng berjoget, menyanyi, menggoyang krecek
mengkais recehan penawar lapar
Masih sanggup juga aku terkekeh bangga dengan tingginya sebuah jabatan
sedang kutangkap tangis riuh kepedihan
Masih pula mampu mulutku menikmati humberger
Sedang disana mereka gelisah tidur diiringi nyanyian perut yang gaduh
Masih saja aku mampu menaiki mobil mewah dan bersafari
Ego diri, ambisi dan kursi menyumpal rasa malu
Pemandangan pahit masih banyak yang belum dijamah
Dunia dan perdaban telah membutakan mata bathinku
Memperbudak tingkah laku
Indahnya sebuah negeri hanya simbolik
Masih menyimpan nada-nada tifa
Gubuk-gubuk kardus menghampar
Teriakan kelaparan, kemiskinan menggaung bising
Aku terkenang akan cerita ayah:
“ Proklamasi adalah jembatan emas menuju kemerdekaan.
Menuju kebebasan yang hakiki,
dan Kemerdekaan adalah
kunci untuk membuka gerbang ruang kejayaan menuju Negara yang ‘Tata Tentram Kertaraharja’
Gemah Ripah Loh Jinawi bagi segenap anak bangsa”
Tapi yang terasa hanyalah kekacauan,korupsi, kemiskinan, kelaparan.
inikah warna kemerdekaan?
harga-harga melambung tinggi
berbondong-bondong rakyat menjadi TKI, tersiar mereka mati di negeri orang
anak-anak tak bisa sekolah
sekolah ibarat Menara Gading yang tak terjangkau.
Aku terpaku.
waktu yang terus berlalu
Akankah dapat merubah peradaban dan keadaan
Adakah nada riang tawa tertata di depan sana
Akankah rasa malu kan terkubur
Akankah keindahan membentang mendatang
Ataukah akan mati rasa
terlena panjang,
membiarkan semua berlarut berkepanjangan.
## Janganlah
mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna.
Selama masih ada
ratap tangis di gubuk-gubuk.
pekerjaan kita belum selesai!
Berjuanglah terus
dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat.
(Pidato HUT Proklamasi, 1950 Bung
Karno)##
0 komentar:
Posting Komentar